Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

4.000 Nakes di Brussels Gelar Aksi Protes Keharusan Vaksinasi

Rabu 08 Dec 2021 20:21 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Demonstran berbaris selama protes terhadap tindakan coronavirus di Brussels, Belgia, Ahad, 5 Desember 2021. Setelah demo tersebut, giliran tenaga kesehatan (nakes) yang menggelar demonstrasi menentang kewajiban vaksinasi, Selasa (7/12).

Demonstran berbaris selama protes terhadap tindakan coronavirus di Brussels, Belgia, Ahad, 5 Desember 2021. Setelah demo tersebut, giliran tenaga kesehatan (nakes) yang menggelar demonstrasi menentang kewajiban vaksinasi, Selasa (7/12).

Foto: AP/Geert Vanden Wijngaert
Nakes Brussells menilai vaksinasi seharusnya bersifat pilihan, bukan keharusan.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- Massa dari 4.000 lebih tenaga kesehatan menggelar aksi protes di Brussels, Belgia, pada Selasa (7/12). Mereka menentang keputusan pemerintah federal yang mewajibkan seluruh staf medis untuk menjalani vaksinasi.

Tenaga kesehatan yang menolak disuntik vaksin akan dikenai denda. Mereka juga berisiko diskors.

Baca Juga

Massa mengecam vaksinasi wajib sebagai "diskriminasi". Menurut para tenaga kesehatan, langkah itu "tidak produktif".

Melalui poster yang dibawa saat demonstrasi, tenaga kesehatan mengungkapkan "kita harus lebih mengedepankan akal sehat". Mereka juga mengajak menyelamatkan sistem kesehatan ketimbang memecat staf.

"Setiap orang berhak memilih, namun ancaman pemecatan yang melibatkan staf tidak dapat diterima. Kami sudah kekurangan staf. Jika kami diberhentikan itu akan menjadi bencana sekaligus menurunkan minat masyarakat untuk menekuni profesi ini," kata pegawai rumah sakit di Provinsi Liege, Raphael Meys.

Pada 19 November, pemerintah federal mengesahkan undang-undang tentang kewajiban vaksinasi bagi petugas kesehatan. Per 1 Januari 2022, staf perawatan akan diberi waktu tiga bulan untuk disuntik vaksin.

Apabila keputusan tersebut tidak dilaksanakan per 1 April 2022, visa atau nomor registrasi staf akan dicabut. Itu sama saja mereka berisiko diberhentikan.

Penyelenggara aksi (front serikat pekerja) telah mengadakan pertemuan dengan kepala staf Menteri Kesehatan Franck Vandenbroucke. Pertemuan berikutnya juga dijadwalkan pekan depan.

sumber : Antara, Xinhua
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA