Rabu 08 Dec 2021 19:48 WIB

Museum Aceh Dikunjungi 15 Ribu Wisatawan Selama Pandemi 2021

Museum baru dibuka pertengahan Oktober 2021, dan pengunjungya sekitar 15 orang.

Wisatawan melihat peninggalan sejarah lonceng cakra donya di halaman museum Aceh, Banda Aceh, Aceh, Senin (30/11/2020). Lonceng cakra donya merupakan hadiah persahabatan dari penguasa daratan Tiongkok Kaisar Yonglee yang mengutus Laksamana Cheng Ho untuk diberikan kepada Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1414 Masehi yang kemudian dibawa ke Kutaradja atau Banda Aceh setelah Samudera Pasai ditaklukkan Aceh Darussalam.
Foto: ANTARA/Irwansyah Putra
Wisatawan melihat peninggalan sejarah lonceng cakra donya di halaman museum Aceh, Banda Aceh, Aceh, Senin (30/11/2020). Lonceng cakra donya merupakan hadiah persahabatan dari penguasa daratan Tiongkok Kaisar Yonglee yang mengutus Laksamana Cheng Ho untuk diberikan kepada Kerajaan Samudera Pasai pada tahun 1414 Masehi yang kemudian dibawa ke Kutaradja atau Banda Aceh setelah Samudera Pasai ditaklukkan Aceh Darussalam.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH -- Wisatawan yang berkunjung ke Museum Aceh dalam dua bulan terakhir di masa pandemi Covid-19 sejak dibuka pada Oktober 2021 sampai saat ini mencapai 15 ribu orang. Angka itu baik dari lokal maupun Nusantara.

"Museum baru kita buka pertengahan Oktober 2021, dalam dua bulan ini ada sekitar 15 ribu pengunjung," kata Kepala UPTD Museum Aceh Mudha Farsyah, di Banda Aceh, Rabu (8/12).

Baca Juga

Mudha menyampaikan sebanyak 15 ribu pengunjung Museum Aceh di tengah pandemi Covid-19 tersebut didominasi oleh wisatawan lokal, dan lebih kurang 10 persen diantaranya dari nusantara."Rata-rata dari wisatawan lokal, dan kalau dari luar negeri masih kosong. Mereka juga belum bisa datang karena memang tidak ada penerbangan," ujarnya.

Mudha menjelaskan, setiap pengunjung juga diwajibkan taat protokol kesehatan (prokes), karenanya juga dilakukan pembatasan maksimal 300 pengunjung per hari, dengan saling bergantian. "Dengan catatan tidak masuk secara serentak, kemudian kalau ke ruangan pameran juga dibatasi maksimal 25 orang, tidak boleh berkerumun," katanya.

Dalam kesempatan ini, Mudha juga menyebutkan bahwa di Museum Aceh saat ini memiliki sebanyak 6.038 koleksi dari 10 jenis seperti geologika, biologika, etnografika, arkelogika, historika, numismatika dan heraldika, filologika, keramonologika, seni rupa, dan teknologika. Namun, kata Mudha, tidak semuanya dipamerkan secara serentak, melainkan ada pergantian selama enam bulan sekali dengan 1.300 koleksi yang ditampilkan pada tiga tempat, yaitu ruang pameran tetap, rumah Aceh dan pameran temporer. "Itu yang dipamerkan hanya 1.300 koleksi, dan selebihnya ditempat penyimpanan, kemudian akan ada pergantian koleksi setiap enam bulan sekali," kata Mudha.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement