Tuesday, 16 Syawwal 1443 / 17 May 2022

Boikot Diplomatik Olimpiade, China: AS akan Kena Konsekuensi

Selasa 07 Dec 2021 17:53 WIB

Rep: Kamran Dikarma/Rizki Jarayama/ Red: Teguh Firmansyah

 Pemandangan menunjukkan platform lompat ski untuk Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 di Taman Shougang di Beijing, Cina, 19 November 2021. Menurut laporan media, Presiden AS Joe Biden mengatakan AS sedang mempertimbangkan boikot diplomatik terhadap Olimpiade Beijing.

Pemandangan menunjukkan platform lompat ski untuk Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 di Taman Shougang di Beijing, Cina, 19 November 2021. Menurut laporan media, Presiden AS Joe Biden mengatakan AS sedang mempertimbangkan boikot diplomatik terhadap Olimpiade Beijing.

Foto: EPA-EFE/WU HONG
China menilai Washington melanggar netralitas politik dalam olahraga.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pemerintah China mengecam langkah Amerika Serikat (AS) melakukan boikot diplomatik terhadap perhelatan Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022. China menilai, Washington melanggar netralitas politik dalam olahraga.

"AS berdiri menentang atlet dan pecinta olahraga di seluruh dunia, Olimpiade bukanlah panggung untuk sikap politik atau manipulasi politik,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhao Lijian dalam pengarahan pers reguler di Beijing, Selasa (7/12), dilaporkan Bloomberg.

Baca Juga

Zhao menegaskan, AS akan menerima konsekuensi atau balasan atas tindakannya tersebut. Namun dia tak menjelaskan langkah apa yang bakal diambil China merespons pemboikotan oleh Washington.

Pastinya, tindakan AS akan  merusak dialog dan kerja sama antara kedua negara dalam serangkaian bidang penting dan masalah internasional. “AS akan menanggung akibatnya. Anda dapat menunggu tindak lanjutnya,” kata Zhao.

Zhao mengatakan, boikot itu sangat melanggar prinsip netralitas politik olahraga yang ditetapkan dalam Piagam Olimpiade. Boikot tersebut juga bertentangan dengan moto Olimpiade yaitu bersatu. 

Pada Senin (6/12), AS mengatakan tidak akan mengirim delegasi diplomat ke perhelatan Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022.
 
Kedutaan Besar China di Washington dalam cicitan di Twitter mengatakan, AS menyerukan boikot untuk kepentingan dan sikap politik mereka sendiri. "Faktanya, tidak ada yang akan peduli apakah orang-orang ini datang atau tidak, dan itu tidak berdampak apa pun pada #Beijing2022 agar berhasil diselenggarakan,” kata Kedubes China.
 
Sementara, misi China untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut boikot itu sebagai lelucon politik yang diarahkan sendiri. "AS hanya ingin mempolitisasi olahraga, menciptakan perpecahan dan memprovokasi konfrontasi," kata misi tersebut.
 
Komisi Pusat Inspeksi Disiplin Partai Komunis  mengeluarkan tanggapan dalam bentuk artikel panjang di situsnya yang berjudul "Semangat Piagam Olimpiade Tidak Dapat Dinodai".
 
Artikel itu mengatakan, beberapa politisi anti-Cina Barat telah menunjukkan mentalitas defensif Perang Dingin yang bertujuan mempolitisasi olahraga kata artikel itu. Artikel tersebut mengatakan bahwa, pelanggaran terhadap semangat Olimpiade adalah tantangan bagi semua orang yang mencintai Olimpiade.

Menurut Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki, genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang sedang berlangsung di Xinjiang serta pelanggaran hak asasi manusia (HAM) lainnya di China menjadi alasan utama pemboikotan tersebut. Kendati demikian, kontingen atlet AS tetap diizinkan berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin Beijing dan akan mendapat dukungan penuh dari pemerintah.

Saat ini Kanada dan Australia juga sedang mempertimbangkan apakah akan mengutus delegasi diplomat ke penyelenggaraan Olimpiade Musim Dingin Beijing. Seperti dilaporkan laman BBC, di platform media sosial Cina, Weibo, topik pencarian “boikot diplomatik AS atas Olimpiade Musim Dingin Beijing” disensor pada Selasa pagi.

Sebagian besar komentar di bawah unggahan outlet media pemerintah, Global Times, terkait berita boikot tersebut juga dihapus. Hanya tersisa delapan dari hampir 1.500 komentar. “Olimpiade adalah untuk atlet, apa hubungannya dengan politisi? Bahkan jika Anda memboikot, satu-satunya orang yang Anda sakiti adalah warga negara Anda sendiri (termasuk atlet),” kata salah satu warga di kolom komentar.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA