Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Tuesday, 15 Jumadil Akhir 1443 / 18 January 2022

Soal Anies Baswedan, Politikus Gerindra Dinilai Etnosentrime

Selasa 07 Dec 2021 09:43 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Bayu Hermawan

Arief Poyuono (kiri).

Arief Poyuono (kiri).

Politikus Gerindra dinilai etnosetrisme sebut Anies Baswedan tak bisa jadi Capres.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menanggapi terkait pernyataan Politikus Partai Gerindra Arief Poyuono yang menyebut Anies Baswedan dan Sandiaga Uno tidak bisa jadi presiden karena bukan dari suku Jawa. Menurutnya, pernyataan Arief Poyuono itu mengarah etnosentrime. 

"Orang Jawa katanya akan memilih pemimpin yang berasal dari suku mereka. Pernyataan Arief Poyuono itu mengarah etnosentrime. Negeri multi etnik ini dinilainya hanya akan dipimpin oleh suku Jawa. Suku lain seolah tertutup untuk terpilih menjadi presiden," katanya kepada Republika.co.id, Senin (6/12).

Baca Juga

Kemudian, ia melanjutkan sikap etnosentrime tersebut tentu membahayakan perkembangan demokrasi di Indonesia. Sebab, sikap etnosentrisme itu pada umumnya berkembang di negara totaliter.

Hal itu sudah dipraktekan Adolf Hitler saat memimpin Jerman. Hitler melalui NAZI terus menerus mengagungkan rakyat Jerman sebagai bagian dari Ras Arya. NAZI menilai Ras Arya ras paling unggul, karena itu paling berhak memimpin dunia. Ras lain hanya pecundang, karenanya syah untuk dipimpin dan dikuasai.

"Sikap seperti itu tentu sangat tidak cocok di negara demokrasi. Sebab, mereka akan terus berupaya mendominasi dengan tidak memberi ruang bagi suku lain untuk memimpin," katanya

Ia menambahkan Indonesia yang dihuni multi etnis, tentu sikap etnosentrisme dapat mengganggu NKRI. Suku lain akan merasa tertutup untuk menjadi presiden. Hal itu dapat membuat frustasi suku lain.

"Selain itu, Arief Poyuono juga terlalu mengenalisir orang Jawa. Semua orang Jawa seolah sudah pasti akan memilih sukunya. Generalisasi seperti itu tentu sangat menyesatkan. Sebab, kalau pola pikir itu yang digunakan, maka semua orang Jawa seolah tipe pemilih emosional," ujarnya.

Padahal, lanjut dia, realitas politiknya banyak orang Jawa yang termasuk pemilih rasional. Pemilih seperti ini memilih capres buka karena satu suku atau satu agama, tapi lebih karena dinilainya paling layak dibandingkan capres lainnya.

Pada umumnya, semakin terdidik pemilih akan semakin rasional dalam memilih capres. Kecenderungan ini yang terus terjadi di Indonesia, dimana pemilih terbesar saat ini adalah kalangan muda. Mereka ini pada umumnya sudah terdidik.

"Jadi, sinyalemen Arief Poyuono orang Jawa akan memilih dari sukunya tampaknya akan terbantahkan pada Pilpres 2024. Kecenderungan ini akan terlihat pada pemilih yang terdidik dan masuk tipe pemilih rasional," katanya.

Sebelumnya diketahui, Politikus Gerindra Arief Poyuono berdebat dengan Irma Suryani Chaniago dari partai Nasdem tentang kans Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi calon presiden di Pilpres 2024. Perdebatan dimulai usai Arief menyebut Anies Baswedan tidak bisa jadi presiden karena bukan berasal dari suku Jawa.

"Saya juga percaya tentang kata-kata leluhur orang Jawa dan harus Jawa Presiden Indonesia. Itu enggak bisa Sandiaga, bukan Jawa. Anies setengah Jawa, setengah Timur Tengah," kata Arief dalam diskusi yang digelar Total Politik di Jakarta, Ahad (5/12).

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA