Senin 06 Dec 2021 17:21 WIB

Cuaca Buruk, Ribuan Nelayan Kecil tak Melaut

Ada sekitar 10 ribu orang nelayan yang biasa melaut dengan kapal kecil.

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Andi Nur Aminah
Nelayan menatap ombak di pinggiran pantai, karena angin kencang saat ini banyak nelayan yang tak bisa melaut untuk mencari ikan (ilustrasi)
Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi
Nelayan menatap ombak di pinggiran pantai, karena angin kencang saat ini banyak nelayan yang tak bisa melaut untuk mencari ikan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU -- Ribuan nelayan kecil di Kabupaten Indramayu tak bisa melaut. Hal itu menyusul cuaca buruk yang melanda perairan. "Sudah tiga hari ini nelayan kecil tak bisa melaut. Gelombang tinggi, angin kencang," ujar Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Indramayu, Dedi Aryanto, kepada Republika.co.id, Senin (6/12).

Dedi menyebutkan, di Kabupaten Indramayu ada sekitar 10 ribu orang nelayan yang biasa melaut dengan kapal kecil. Mereka hanya melaut di sekitar perairan Kabupaten Indramayu, dengan kapal berukuran dibawah 10 gross ton (GT).

Baca Juga

Menurut Dedi, kapal-kapal kecil milik nelayan itu hanya diperkenankan melaut dengan ketinggian gelombang 1,25 meter atau maksimal dua meter. Sedangkan saat ini, ketinggian gelombang di laut bisa mencapai diatas 2,5 meter. "Ketinggian gelombang 2,5 meter saja sudah berbahaya bagi kapal-kapal kecil. Apalagi kalau ketinggiannya lebih dari itu," tukas Dedi.

Dedi mengungkapkan, terhentinya aktivitas melaut para nelayan kecil itu otomatis berdampak pada pasokan ikan di tempat pelelangan ikan (TPI). Menurutnya, aktivitas pelelangan ikan di TPI menjadi sepi.

Dedi menyontohkan, di TPI Glayem Kecamatan Juntinyuat, sejak tiga hari terakhir ini, tidak ada kapal yang pulang melaut dan melakukan aktivitas bongkar kapal. Menurutnya, aktivitas pelelangan ikan pada Senin (6/12) hanya dilakukan oleh satu kapal. "Tapi kapal yang bongkar hari inipun merupakan kapal yang pulang melaut pada Jumat kemarin," terang Dedi.

Dedi mengatakan, dalam kondisi normal, produksi ikan yang dilelang di TPI Glayem berkisar di antara 20 hingga 40 ton per hari. Produksi ikan itu merupakan hasil tangkapan dari puluhan kapal milik nelayan setempat.

Hal senada diungkapkan Ketua Serikat Nelayan Tradisional (SNT), Kajidin. Dia menyatakan, saat ini nelayan-nelayan kecil di Kabupaten Indramayu tak bisa melaut akibat cuaca buruk.

"Nelayan kecil pada menganggur semua, tak bisa melaut. Mereka menjerit karena tak bisa memperoleh penghasilan," keluh Kajidin.

Kajidin menambahkan, tak hanya nelayan kecil, nelayan Indramayu dengan kapal yang cukup besar pun susah untuk mencari ikan. Mereka sudah terlanjur berangkat melaut dan terjebak cuaca buruk sehingga tidak bisa pulang kembali ke Indramayu "Mereka saat ini berteduh di pulau-pulau kecil. Ada juga yang berteduh di pelabuhan terdekat," terang Kajidin.

Kajidin menyontohkan, nelayan asal Kabupaten Indramayu yang mencari cumi-cumi, saat ini terpaksa berteduh terlebih dulu di pelabuhan sekitar perairan Jakarta. Mereka berteduh sambil menunggu kondisi cuaca kembali membaik.

Kajidin menyebutkan, jumlah kapal asal Kabupaten Indramayu yang berteduh di pulau-pulau kecil maupun pelabuhan terdekat ada ratusan kapal. Mereka sebelumnya sudah terlanjur berangkat melaut.

Sedangkan untuk kapal-kapal besar, lanjut Kajidin, meski lebih kuat dalam menghadapi gelombang tinggi, namun mereka tetap kesulitan untuk mencari ikan. Dia menyatakan, jaring ikan yang mereka tebarkan di laut sulit untuk memperoleh tangkapan karena terbawa angin kencang. "Hasil tangkapan jadi minim. Padahal biaya perbekalannya besar," tukas Kajidin.

Kajidin menambahkan, tak hanya gelombang tinggi di laut, banjir akibat gelombang tinggi (rob) yang melanda pesisir di Kabupaten Indramayu juga menyulitkan nelayan untuk berangkat melaut. Kondisi itu di antaranya dialami oleh nelayan di pesisir Desa Eretan Kulon dan Eretan Wetan, dimana tempat tinggal mereka terendam banjir rob selama beberapa hari terakhir.

Dia berharap, ada perhatian pemerintah untuk membantu nelayan, terutama nelayan kecil. Dengan kondisi seperti saat ini, mereka kesulitan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. N lilis sri handayani

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement