Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Harga Cabai Rawit di Kalbar Tembus Rp 120 Ribu/Kilogram

Ahad 05 Dec 2021 20:49 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

 Pedagang sedang memilah cabai rawit merah di pasar tradisional. ilustrasi

Pedagang sedang memilah cabai rawit merah di pasar tradisional. ilustrasi

Foto: Tahta Aidilla/Republika
Kenaikan harga cabai juga dipengaruhi oleh banjir.

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Harga komoditas cabai rawit di KalimantanBarat (Kalbar) saat ini mulai merangkak naik seperti di Pasar Flamboyan, Kota Pontianak, hingga menembus angka Rp 120 ribu per kilogram.

"Cabai rawit yang masih baru Rp 120 ribu per kilogram, yang sudah agak layu Rp 90 ribu per kilogram. Sementara untuk harga cabai kering mencapai Rp50 ribu per kilogram dan cabai keriting Rp 40 ribu  per kilogram," ujar Biebi, satu di antara penjual cabai di Pasar Flamboyan, Pontianak, Ahad (5/12).

Baca Juga

Ia menjelaskan, kenaikan cabai dapat dipicu beberapa hal seperti permintaan banyak, tetapi pasokan kurang dari petani dan hal lainnya. "Harga cabai normal mulai Rp 35 ribu per kilogram, namun kini tembus Rp 120 ribu per kilogram," jelas dia.

Naiknya harga cabai membuat masyarakat mengeluhkan hal tersebut, karena cabai digemari masyarakat, khususnya di Kalbar, untuk menjadi penambah rasa dalam makanan.

"Biasanya, saya sering menggunakan cabai untuk dijadikan sambal sebagai penambah rasa tetapi karena kenaikan ini saya agak menguranginya, karena harganya yang mahal," ujar Marlina, warga di Pontianak.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kalbar Heronimus Hero mengatakan kenaikan harga cabai juga dipengaruhi oleh banjir yang terjadi di beberapa daerah.

"Kalau bicara kenaikan harga juga sangat masuk akal karena pasokan berkurang akibat banjir dan hukum pasar juga berlaku dalam hal seperti itu," kata dia.

Ia menambahkan, harga cabai yang naik itu biasanya cabai yang masih memiliki kualitas baik dan segar. "Namun untuk itu semua kami akan memantau dan melakukan upaya bagaimana harga cabai tetap terkendali, mulai dari pasokan dan harga di tingkat konsumen," ujar Heronimus.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA