Saturday, 19 Jumadil Akhir 1443 / 22 January 2022

Saturday, 19 Jumadil Akhir 1443 / 22 January 2022

Habib Taufiq Assegaf Terpilih Jadi Ketum Rabithah Alawiyah

Ahad 05 Dec 2021 15:10 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf. Dia terpilih menggantikan Habib Zen bin Smith.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah, Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf. Dia terpilih menggantikan Habib Zen bin Smith.

Foto: Ist
Habib Zen bin Smith menjadi Dewan Syuro Rabithah Alawiyah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Habib Taufiq bin Abdul Qodir Assegaf terpilih sebagai ketua umum (ketum) organisasi habaib se-Indonesia, Rabithah Alawiyah. Habib Taufiq terpilih dalam muktamar yang berlangsung di Jakarta pada Ahad (5/12). 

Habib Taufiq adalah pemimpin Pondok Pesantren Suniyyah Salafiyah Pasuruan. Dia dikenal sebagai ulama karismatik yang memilik banyak pengikut, terutama di Jawa Timur (Jatim). Sebelumnya Habib Taufiq aktif di organisasi Nahdlatul Ulama Jatim sebagai mustasyar (penasihat). 

Baca Juga

Habib Taufiq akan menggantikan posisi Habib Zen bin Smith yang dalam muktamar ini diamanatkan menjadi Ketua Dewan Syuro. Dalam sambutannya, Habib Zen mengatakan, transformasi organisasi yang dilakukan Rabithah adalah ikhtiar untuk semakin memaksimalkan roda organisasi. 

Karena itu, perhelatan muktamar lima tahunan tersebut dimaksudkan untuk konsolidasi organisasi dan transformasi kepemimpinan, serta beradaptasi dengan perkembangan yang cepat. 

"Melalui penyusunan program kerja yang berorientasi pada terwujudnya visi misi organisasi terkait kesejahteraan masyarakat baik dalam lingkup terbatas maupun umum," ujar Habib Zen dalam keterangannya kepada Republika di Jakarta, Ahad.

Muktamar Rabithah Alawiyah dibuka Wapres Ma'ruf Amin. Dalam sambutannya, Wapres mengapresiasi Rabithah yang telah berkontribusi dalam pemberdayaan umat. Wapres menilai pemberdayaan umat adalah hal yang krusial dalam memajukan bangsa. 

Wapres berharap, Muktamar Nasional Rabithah Alawiyah menghasilkan kesepakatan-kesepakatan yang akan membawa maslahat dan manfaat bagi umat. "Kemaslahatan itu menurut ulama itu sesuatu yang melahirkan manfaat dan juga menghilangkan kemudaratan. Karena itu, tugas kita membangun maslahat dan menghilangkan mudarat," katanya.   

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA