Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

ESDM: Semeru Masih Level 2, Masyarakat Diminta Waspada

Ahad 05 Dec 2021 15:03 WIB

Rep: Intan Pratiwi / Red: Agus Yulianto

Gunung Semeru yang mengeluarkan awan panas terlihat dari Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Minggu (5/12/2021). Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas dan lahar dingin di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru terutama di aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/pras.

Gunung Semeru yang mengeluarkan awan panas terlihat dari Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Minggu (5/12/2021). Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas dan lahar dingin di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru terutama di aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/pras.

Foto: ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO
Guguran masih terjadi pada pukul 05.00 dan 10.00 pagi tadi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian ESDM melalui Badan Geologi mengatakan, meski sudah erupsi pada 4 Desember sore kemarin, saat ini Gunung Semeru masih dalam tahap level 2 atau Waspada. Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono meminta, masyarakat di sekitar Gunung Semeru untuk tetap waspada dan berhati hati. Utamanya, untuk wilayah Lumajang dan Kabupaten Malang.

"Saat ini masih dalam tahap level 2 atau waspada. Jadi, kami mengimbau masyarakat tetap berhati-hati dan tidak beraktivitas di wilayah Gunung Semeru paling tidak jarak 1 km dari guguran," ujar Eko dalam konferensi pers, Ahad (5/12).

Eko menjelaskan, semburan awan panas memang berasal dari lereng gunung. Hal ini yang kemudian membuat awan panas berguguran dan dekat dengan wilayah mukim masyarakat."Arah guguran ke arah Tenggara dan Selatan dan melalui sungai," ujar Eko.

Awan panas guguran pertama sudah terjadi sejak 1 Desember kemarin. Pascakejadian guguran pada 1 Desember kemarin, secara fisik pengamatan tidak maksimal karena sudah tertutup kabut. 

Guguran lava dengan kecepatan luncur 4 km per jam membuat guguran ini cepat. Guguran masih terjadi pada pukul 05.00 dan 10.00 pagi tadi, meski kecepatan luncur tidak secepat sebelumnya.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA