Friday, 14 Muharram 1444 / 12 August 2022

Tingginya Kasus Covid-19 Anak di Afsel tak Picu Kepanikan

Sabtu 04 Dec 2021 21:55 WIB

Red: Esthi Maharani

 Seorang petugas bensin berdiri di samping tajuk berita utama surat kabar di Pretoria, Afrika Selatan, Sabtu, 27 November 2021. Saat dunia bergulat dengan munculnya varian baru COVID-19, para ilmuwan di Afrika Selatan — tempat omicron pertama kali diidentifikasi — berjuang untuk memerangi penyebarannya di seluruh negeri.

Seorang petugas bensin berdiri di samping tajuk berita utama surat kabar di Pretoria, Afrika Selatan, Sabtu, 27 November 2021. Saat dunia bergulat dengan munculnya varian baru COVID-19, para ilmuwan di Afrika Selatan — tempat omicron pertama kali diidentifikasi — berjuang untuk memerangi penyebarannya di seluruh negeri.

Foto: AP/Denis Farrell
Sejumlah besar anak-anak di Afsel dibawa ke rumah sakit dengan gejala Covid-19

REPUBLIKA.CO.ID, JOHANNESBURG -- Meningkatnya kasus infeksi Covid-19 pada anak selama gelombang keempat wabah di Afrika Selatan yang dipicu varian Omicron tidak membuat panik karena gejalanya ringan, kata pejabat kesehatan pada Sabtu (4/12).

Sejumlah besar anak-anak dibawa ke rumah sakit dengan gejala Covid-19 bulan lalu di Tshwane, daerah metropolitan yang mencakup ibu kota Pretoria. Hal itu meningkatkan kekhawatiran bahwa Omicron dapat membawa risiko lebih besar pada anak ketimbang varian lainnya.

Para ilmuwan belum memastikan adanya keterkaitan apa pun dan telah memperingatkan bahwa faktor-faktor lain mungkin ikut berperan. Ntsakisi Maluleke, spesialis kesehatan publik di provinsi Gauteng yang mencakup Tshwane dan kota terbesar Johannesburg, mengatakan dari 1.511 pasien positif Covid-19 di rumah sakit-rumah sakit di seluruh provinsi, 113 di antaranya adalah anak di bawah 9 tahun, lebih besar ketimbang proporsi pasien anak pada gelombang sebelumnya.

"Kami lega dengan laporan petugas medis bahwa anak-anak itu mengalami gejala ringan," kata dia dalam wawancara dengan Reuters.

Dia menambahkan pejabat kesehatan dan ilmuwan tengah menyelidiki apa penyebab kenaikan kasus rawat inap di kalangan anak-anak dan berharap bisa memberikan informasi yang lebih jelas dalam dua pekan mendatang. Karena hanya sejumlah kecil sampel positif Covid-19 di Afsel yang dikirim untuk pengurutan genom, pejabat tidak mengetahui varian mana yang telah menginfeksi anak-anak. Maluleke mengatakan petugas medis bertindak dengan sangat hati-hati.

"Mereka lebih suka anak-anak dirawat satu atau dua hari (di rumah sakit) daripada membiarkan mereka di rumah dan memperumit (masalah)... namun kami perlu menunggu bukti," kata dia.

Dia mengatakan banyak pasien Covid-19 di Gauteng melaporkan gejala mirip flu yang "tidak spesifik" seperti tenggorokan gatal, bukan gejala lain yang lebih mudah dikenali seperti hilangnya indera penciuman dan pengecapan. Namun dia mendesak para orang tua dan ibu hamil, yang juga banyak dibawa ke RS akhir-akhir ini, untuk tidak menganggap enteng gejala yang mirip flu dan menjalani tes jika memerlukan penanganan lebih lanjut.

"Masyarakat tak perlu takut tapi waspada," kata dia.

Meski jumlah rawat inap meningkat, tingkat keterisian ranjang RS khusus Covid-19 di Gauteng masih sekitar 13 persen, kata Maluleke. Dia menambahkan bahwa rencana darurat sudah disiapkan jika kapasitas tempat tidur tertekan.

Para ilmuwan masih meneliti tingkat keparahan dari Omicron yang pertama kali terdeteksi di selatan Afrika bulan lalu dan kini telah ditemukan di lebih dari 30 negara, dan apakah varian itu lebih resisten terhadap vaksin yang ada

sumber : Antara / Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA