Sunday, 20 Jumadil Akhir 1443 / 23 January 2022

Angkie Yudistia: Orang Tuli Berkomunikasi Berbeda-beda

Sabtu 04 Dec 2021 00:16 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Indira Rezkisari

Staf khusus Presiden Angkie Yudistia mengatakan, setiap anak tuli memiliki kemampuan komunikasi yang berbeda.

Staf khusus Presiden Angkie Yudistia mengatakan, setiap anak tuli memiliki kemampuan komunikasi yang berbeda.

Foto: Antara/Galih Pradipta
Angkie mengatakan kemampuannya sebagai orang tuli tidak bisa disamaratakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi), Angkie Yudistia, ikut bersuara terkait aksi Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini yang memaksa anak tuli berbicara di depan publik. Sebagai seorang tuli, Angkie memahami betul bahwa setiap anak tuli berkomunikasi dengan cara berbeda-beda.

"Jika kita bicara tentang penyandang disabilitas rungu/tuli, setiap anak-anak, usia produktif tuli memiliki kebutuhannya (cara komunikasi) masing-masing yang tidak bisa kita sama ratakan," kata Angkie di kantor Kemensos, Jumat (3/12).

Baca Juga

Ada anak tuli yang menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi, kata Angkie. Ada juga anak yang menggunakan ekspresi gerakan tubuh dan ada pula yang menggunakan teknologi adaptif.

"Saya sebagai penyandang disabilitas sangat paham betul bagaimana penyandang disabilitas ini memiliki cara yang unik dan istimewa saat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya," ujarnya.

Angkie juga menanggapi pernyataan Risma  yang mengaku terinspirasi dari dirinya karena bisa semakin lancar berbicara. "(Kemampuan) bicara saya tidak bisa disamaratakan dengan teman-teman yang lain," kata Angkie.

Kendati demikian, Angkie menilai tindakan Risma itu sebenarnya berlandaskan atas niat tulus. Sebab, dirinya tahu Risma adalah sosok yang berkomitmen mengimplementasikan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Sebelumnya, Rabu (1/12), Risma memaksa seorang anak penyandang disabilitas rungu berbicara di hadapan khalayak ramai saat acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di kantor Kemensos, Jakarta. Alhasil, seorang anak tuli lainnya bernama Stefanus, langsung protes di hadapan Risma.   

Stefanus mengaku kaget melihat Risma memaksa anak tuli untuk berbicara. Dia pun menjelaskan bahwa anak tuli memiliki kemampuan berbicara beragam. Dan, anak tuli tidak boleh dipaksa berbicara.  

Risma seketika memberikan penjelasan kepada Stefanus. “Kenapa ibu paksa kalian untuk bicara? Ibu paksa memang, supaya kita bisa memaksimalkan pemberian Tuhan kepada kita. Mulut, mata, telinga. Tapi saya berharap kita semua bisa mencoba,” ucap Risma.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA