Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Jokowi: Pandemi Berdampak Kelangkaan Energi Hingga Inflasi

Jumat 03 Dec 2021 15:05 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Bayu Hermawan

Presiden Joko Widodo (Jokowi)

Presiden Joko Widodo (Jokowi)

Foto: ANTARA/Fikri Yusuf
Presiden Jokowi mengatakan pandemi berdampak pada kelangkaan energi hingga inflasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjelaskan, pandemi Covid-19 memberikan dampak di berbagai sektor, dari keamanan dan ketertiban masyarakat, kelangkaan energi, inflasi, hingga ekonomi. Hal tersebut disampaikan Presiden saat memberikan pengarahan kepada Kepala Kesatuan Wilayah (Kasatwil) Tahun 2021 di Candi Ballroom, Hotel The Apurva Kempinski, Kabupaten Badung, Provinsi Bali, Jumat (3/12).

"Efek pandemi ini larinya ke mana-mana. Dan pada suatu titik bisa larinya ke keamanan, ke ketertiban masyarakat kalau kita tidak bisa mengendalikan yang namanya Covid," ujar Jokowi melalui kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Baca Juga

Selain itu, pandemi juga berdampak pada kelangkaan energi di sejumlah negara serta berdampak pada kelangkaan kontainer yang mengganggu distribusi barang antarnegara. "Artinya distribusi barang ke sebuah negara, ke sebuah pulau, ke sebuah kota, provinsi bisa terganggu. Jangan dianggap remeh hal-hal seperti ini," katanya.

Tak hanya itu, pandemi Covid-19 juga dapat berdampak pada kenaikan inflasi sehingga menyebabkan kenaikan harga berbagai barang kebutuhan masyarakat. Karena itu, ia meminta jajaran Polri agar mewaspadai dampak pandemi ini jika kasus kembali melonjak.

"Jajaran Polri harus juga tahu mengenai ini. Pandemi juga berdampak pada yang namanya kenaikan harga produsen. Artinya biaya di produksi di pabrik, di manufaktur, di industri naik. Kelihatannya gak berdampak apa-apa kenaikan biaya produsen. Hati-hati," jelas Jokowi.

Presiden mengatakan, kondisi Covid-19 di Indonesia saat ini masih menunjukan tren penurunan sejak puncak kasus pada Juli lalu. Menurutnya, capaian dalam pengendalian kondisi pandemi di Tanah Air ini merupakan upaya yang luar biasa. Karena itu, ia menyampaikan apresiasinya kepada jajaran TNI dan Polri yang turut membantu dalam mengendalikan penyebaran pandemi Covid-19.

"Saya ingin sampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya pada jajaran Polri dan TNI yang betul-betul saya lihat pelaksanaan di lapangan mati-matian karena juga takut dicopot kalau tidak bisa mengendalikan di provinsinya, di kotanya, di kabupatennya," katanya.

Menurut Jokowi, tak semua negara mampu mengendalikan Covid-19 seperti yang telah dilakukan oleh Indonesia. Saat ini, lanjutnya, beberapa negara yang berada di level 1 yakni Indonesia, Cina, India, Jepang, dan Taiwan.

"Ini negara besar sekali, gede banget. Tapi bisa mengendalikan itu. Itu yang kita harus benar-benar bersyukur," tambahnya.

Kendati demikian, ia mengingatkan pandemi ini masih belum berakhir karena masih terdapat ancaman gelombang berikutnya dari varian Omicron. Varian Omicron ini dilaporkan telah terdeteksi di 29 negara, termasuk di Singapura.

Meskipun masih dalam tahap studi lanjutan, namun varian ini diperkirakan memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi dari varian Delta.

"Ingat varian delta itu menyebar di Indonesia dalam waktu 2-3 minggu semua langsung kena. Ini lebih cepat. Meskipun belum final tapi perkiraan 5 kali lipat lebih cepat. Dan kemungkinan besar juga bisa escape immunity. Artinya dia bisa masuk ke sela-sela antibodi kita yang sudah imun dia bisa menerobos," jelas Jokowi.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA