Sunday, 28 Syawwal 1443 / 29 May 2022

Laporan: 60% Media Daring Inggris Beritakan Muslim Negatif

Kamis 02 Dec 2021 15:21 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah

Laporan: 60 % Media Daring Inggris Beritakan Muslim Negatif. Orang-orang Shalat di Masjid London Timur & Pusat Muslim London di London timur, Inggris, Rabu (14/4). Untuk kegiatan Ramadhan, setelah bulan suci harus diamati selama pembatasan virus korona tahun lalu tanpa pertemuan doa komunitas biasa,

Laporan: 60 % Media Daring Inggris Beritakan Muslim Negatif. Orang-orang Shalat di Masjid London Timur & Pusat Muslim London di London timur, Inggris, Rabu (14/4). Untuk kegiatan Ramadhan, setelah bulan suci harus diamati selama pembatasan virus korona tahun lalu tanpa pertemuan doa komunitas biasa,

Foto: Harun Chown / PA melalui AP
Beberapa berita menyebabkan kasus pencemaran nama baik Muslim Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Sebuah laporan baru menyatakan surat kabar dan media utama membantu mengabadikan persepsi negatif tentang Muslim di Inggris. Laporan ini menyoroti area di mana pers nasional Inggris dengan sengaja membagikan konten yang terlihat menjelekkan Muslim dan dalam beberapa kasus menyebabkan kasus pencemaran nama baik.

British Media's Coverage of Muslims & Islam (2018-2020) adalah salah satu penelitian statistik paling ekstensif yang dilakukan tentang bagaimana Muslim dan Islam dilaporkan di media. Laporan ini mengungkapkan melalui 100-an contoh skala pelaporan negatif yang terkait dengan Muslim di Inggris.

Baca Juga

Laporan itu dirilis oleh Pusat Pemantauan Media yang menganalisis lebih dari 48 ribu artikel daring dan 5.500 tayangan siaran. Laporan itu mengungkapkan hampir 60 persen artikel media online (daring) dan 47 persen tayangan televisi menghubungkan Muslim dan/atau Islam dengan aspek atau perilaku negatif.

Laporan ini mencakup sepuluh studi kasus yang dipresentasikan yang menunjukkan Muslim disalahartikan, diburukkan/dicemarkan difitnah, dan dilabeli dalam publikasi besar. Disebutkan terdapat kerugian yang dibayarkan dalam sembilan kasus, di samping permintaan maaf publik.

Penulis laporan berpendapat standar jurnalistik yang tinggi sangat penting untuk media bebas mereka. Standar jurnalistik yang dimaksud ialah yang memperlakukan Muslim secara adil dan tidak berusaha untuk secara sengaja keliru menggambarkan komunitas Muslim.

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA