Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Gerakan Menanam Pohon untuk Selamatkan Bumi Diluncurkan

Rabu 01 Dec 2021 22:33 WIB

Red: Nashih Nashrullah

 Ketua Umum DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia, KH Chriswanto Santoso, dalam peluncuran Gerakan Menanam Pohon di Bumi Perkemahan Dewa Ruci, Yogyakarta, Rabu (1/12)

Ketua Umum DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia, KH Chriswanto Santoso, dalam peluncuran Gerakan Menanam Pohon di Bumi Perkemahan Dewa Ruci, Yogyakarta, Rabu (1/12)

Foto: Dok Istimewa
Menanam pohon merupakan bentuk kepedulian terhadap alam

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA— Upaya melestarikan lingkungan dan alam bisa dilakukan antara lain dengan menanam pohon. 

Hal ini sebagaimana dilakukan Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia dengan meluncurkan Gerakan Menanam Pohon di Bumi Perkemahan Dewa Ruci, Yogyakarta, Rabu (1/12). Sebanyak 600 pohon ditanam untuk menyambut Hari Menanam Pohon Indonesia. 

Baca Juga

Ketua Umum DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia, KH Chriswanto Santoso, menyampaikan bahwa kegiatan penanaman pohon ini merupakan instruksi pengurus pusat. “Untuk se-Indonesia, khususnya saat ini dilaksanakan serempak secara bersamaan di DIY dan Riau,” ujarnya.  

Dia berharap, filosofi yang terkandung dapat terus dipelihara dan dilanjutkan sampai benar-benar memberikan manfaat. “Pohon memberikan kehidupan dan penghidupan. Harus benar-benar berhasil,” ujarnya.  

Terkait lingkungan hidup, dia menceritakan bahwa pihaknya telah memulai kampanye menanam pohon atau Go Green, sejak 2007 bekerja sama dengan MUI Jawa Timur. 

“Pohon produktif yang kita tanam, memiliki nilai ekonomi. Ditanam pada daerah binaan MUI, yang dilanjutkan setiap tahun, dan pada 2009 dilakukan pencanangan nasional di Makassar oleh DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia,” urainya. 

Program terus dilanjutkan, dan pada 2011, dilaksanakan pencanangan di Kendari, tidak hanya hutan di tanah kering, tetapi juga di pantai. “Istilahnya terkait dengan lingkungan bahari, daerah pantai di Kendari,” jelasnya.  

Dia menyebutkan, warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia di seluruh Indonesia tercatat sudah menanam 3,5 juta pohon, dengan tingkat kematian hanya 7 persen. “Sehingga masih terus terpelihara. Momen ini membangkitkan kembali, harus terus melakukan perawatan terhadap lingkungan hidup,” ujarnya. 

Selain itu, kata dia, pihaknya juga melakukan literasi kepada masyarakat tentang fiqih lingkungan. “Bersama Prof Faisol Haq, Dekan UIN Sunan Ampel Surabaya dan Prof Sahid,” ujarnya.  

Dia mengungkapkan kedua tokoh tersebut memilki jariyah, mengajarkan kepada masyarakat fiqih lingkungan. “Sehingga masyarakat merasa, dengan menjaga lingkungan merupakan ibadah, bukan sekadar menanam,” ujar dia.                 

Dalam kesempatan ini, dilaksanakan penyerahan bibit secara simbolis kepada seluruh DPD Lembaga Dakwah Islam Indonesia se-DIY, launching ecoprint oleh Kesbangpol DIY dan penanaman pohon filosofi kepel dan ditutup doa oleh Ketua Umum MUI DIY KH Thoha Abdurrahman. 

Dalam kesempatan itu, Ketua DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Atus Syahbudin, mengungkapkan bahwa pohon merupakan sumber kehidupan dan penghidupan.

“Lantaran pohon kita bisa tetap hidup. Sarana menghasilkan oksigen, air, dan udara yang sejuk, serta naungan yang nikmat,” ungkapnya.  

Dia juga berujar, dari segi sumber penghidupan, dari pohon bisa meningkatkan taraf perekonomian. “Seperti kemandirian ecoprint yang bisa dijual, per lembar bisa Rp 200 ribu,” jelasnya.  

Ecoprint yang dihasilkan Omah Fatma yang turut dipamerkan dalam acara itu, mengaplikasikan daun dan bunga di atas kain untuk dijadikan motif. Teknik pengerjaan yang digunakan ecoprint, di antaranya yaitu pounding (pukul), steaming (kukus), dan boilling (rebus).  

Dalam kesempatan itu, Lembaga Dakwah Islam Indonesia melakukan penanaman pohon kepel dengan filosofi rukun dan kompak. “Menyatukan tekad bersatu dalam dakwah bil haal, dengan penanaman pohon ataupun dakwah yang lainnya,” ungkap Atus.     

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA