Sunday, 13 Jumadil Akhir 1443 / 16 January 2022

Ekonom Proyeksi Inflasi Desember Bakal Menurun

Kamis 02 Dec 2021 04:18 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Inflasi (ilustrasi)

Inflasi (ilustrasi)

BPS merilis angka inflasi sepanjang November 2021 mencapai 0,37 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Rusli Abdullah memperkirakan laju inflasi pada Desember tahun ini bakal lebih rendah dari inflasi November yang tercatat sebesar 0,37 persen. Hal itu dikarenakan dampak kebijakan PPKM level 3 Nataru yang memperketat aktivitas masyarakat pada akhir tahun.

"Saya kira inflasi Desember 2021 akan lebih rendah dibanding bulan November karena PPKM level 3 itu akan menggerus dan memperketat mobilitas masyarakat," kata Rusli kepada Republika.co.id, Rabu (1/12).

Baca Juga

Meski diyakini bakal menurunkan tingkat permintaan konsumen, Rusli menilai kebijakan itu baik demi mengamankan situasi domestik. Apalagi di tengah kemunculan varian baru Covid-19 Omicron. Pembatasan-pembatasan yang dilakukan pemerintah pun bukan menutup secara total sehingga kegiatan ekonomi masih dapat berjalan.

Lebih lanjut ia menuturkan, capaian inflasi pada November lalu di mana menurut BPS merupakan yang tertinggi sejak awal tahun dipengaruhi oleh peningkatan daya beli masyarakat. Hal itu membuat adanya demand shock dan supply shock sehingga memicu kenaikan harga.

Itu salah satunya dapat dilihat dari situasi harga minyak sawit yang berdampak pada kenaikan harga minyak goreng di level konsumen saat ini.

Rusli mengingatkan pemerintah untuk lebih waspada pada 2022 mendatang. Pasalnya, potensi lonjakan permintaan yang tidak diikuti dengan kemampuan produksi bisa membuat kenaikan harga-harga dan inflasi turut melonjak.

"Percepatan kenaikan permintaan tidak dibarengi dengan kecepatan suplai. Itu sudah terjadi di level dunia sehingga nanti akan ada keseimbangan baru," kata dia.

Pihaknya sekaligus mewanti-wanti agar pada masa panen awal tahun dapat dikawal secara ketat agar tidak terjadi penurunan produksi pangan. Mengingat, iklim La Nina yang akan mencapai puncak pada akhir tahun ini dan dapat mengganggu proses pertanaman berbagai komoditas pangan yang dikelola petani.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi sepanjang November 2021 mencapai 0,37 persen. Laju inflasi tersebut merupakan yang tertinggi sejak awal tahun ini. Kenaikan inflasi itu juga sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat di luar rumah.

Kepala BPS, Margo Yuwono, menyampaikan, dengan laju inflasi tersebut, angka inflasi tahunan (year on year/yoy) sebesar 1,75 persen sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/ytd) 1,3 persen.

"Jika dilihat secara bulanan sejak Januari, inflasi bulan November ini merupakan yang tertinggi di tahun 2021," kata Margo dalam konferensi pers, Rabu (1/12).

Margo mengatakan, dari 90 kota indeks harga konsumen (IHK) sebanyak 84 kota mengalami inflasi sedangkan di enam kota sisanya terjadi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sintang sebesar 2,01 persen. Penyebab inflasi yakni akibat kenaikan harga bahan bakar rumah tangga yang memberikan andil 0,27 persen, telur ayam ras 0,23 persen, serta kacang panjang 0,19 persen.

Adapun deflasi tertinggi tercatat di Kotamobagu sebesar 0,53 persen. Penyebab deflasi yakni penurunan harga daun bawang, ikan cakalang, cabai rawit, dan kangkung yang masing-masing memberi andil deflasi 0,15 persen.

Lebih lanjut berdasarkan kelompok pengeluaran, Margo menuturkan terdapat tiga kelompok yang mengalami inflasi dan memberikan andil inflasi cukup besar. Kelompok pertama yakni inflasi makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,84 persen dan memberikan andil inflasi 0,21 persen.

"Komoditas yang dominan dalam andil inflasi yakni minyak goreng 0,08 persen, telur ayam ras dan cabai merah 0,06 persen serta daging ayam ras 0,02 persen," kata Margo.

Sementara itu, kelompok kedua yakni dari inflasi transportasi sebesar 0,51 persen dengan andil 0,6 persen. Komoditas yang memberikan andil yakni kenaikan tarif angkutan umum.

Adapun kelompok terakhir yang mengalami inflasi cukup tinggi yakni perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Kelompok ini mengalami inflasi 0,14 persen dengan andil inflasi 0,03 persen.

"Ini karena ada kenaikan biaya sewa rumah dan kontrak rumah andil inflasinya masing-masing 0,01 persen," ujar dia.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA