Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Ini Fakta Kemajuan AI dan Robot di Dunia Gantikan Manusia

Rabu 01 Dec 2021 14:14 WIB

Rep: Puti Almas/ Red: Agus Yulianto

Presiden Jokowi mengatakan, bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) eselon III dan IV akan diganti dengan AI untuk mempercepat proses birokrasi.

Foto:
Menggunakan AI untuk mengotomatisasi tugas dapat mengancam untuk menggantikan pekerja

AI secara khusus berbentuk robot

Di beberapa negara di dunia, AI, secara khusus berbentuk robot telah menjadi bagian besar dari bidang medis, pertanian, perawatan rumah, hingga eksplorasi ruang angkasa. Banyak di antaranya merupakan negara-negara maju, seperti Korea Selatan (Korsel) yang terkenal sebagai yang terdepan dalam menggunakan robot dalam kegiatan industri manufaktur. Tercatat ada 631 robot yang bekerja untuk setiap 10 ribu pekerja di Negeri Ginseng itu.

Selanjutnya, di Singapura, negara ini tercatat sebagai salah satu pengguna teknologi robot terbesar di dunia, dengan 90 persen robot bekerja di sektor industri elektronik. Ada sebanyak 488 robot yang digunakan untuk setiap 10 ribu pekerja. 

Di Jerman, teknologi robot digunakan untuk kemajuan industri otomotif, di mana jumlahnya sekitar 309 mesin robot untuk setiap 10 ribu pekerja. Selanjutnya di Jepang, AI digunakan mayoritas pada bidang yang sama, yaitu pembuatan kendaraan, di mana ada 303 mesin robot per 10 ribu pekerja. 

Denmark juga menjadi salah satu negara yang memanfaatkan robot dalam memajukan industri energi terbarukan. Banyak pengusaha di negara itu yang menggunakan 211 robot untuk 10 ribu pekerja di bidang pembuatan mesin yang mencapai 25 persen dari total produksi nasional negara itu. 

Pengembangan AI juga dapat membantu kemajuan di berbagai bidang yang mungkin terlewatkan oleh manusia. Seperti di Swiss, sebuah perusahaan start-up bernama ecoRobotix mengambangkan teknologi dan karakteristik tanah suatu lahan untuk meminimalisasi kegagalan panen.

Bahkan, AI telah menjadi penyelamat bagi negara-negara berkembang selama pandemi virus corona jenis baru (Covid-19) terjadi sejak 2020. Dilansir Blogs.Worldbank, teknologi ini membantu mempertahankan layanan penting dan mempertahankan perusahaan dalam menjalankan bisnis. 

Sebelum pandemi Covid-19, penggunaan komersial AI berkembang pesat di pasar negara berkembang, di bidang mulai dari manufaktur dan energi hingga pendidikan dan layanan keuangan. Aturan pembatasan seperti lockdown atau karantina wilayah yang diperlukan dan larangan perjalanan yang diberlakukan oleh banyak negara du dunia telah mempercepat tren itu.

Perusahaan seperti Clinicas de Azucar di Meksiko menggunakan AI untuk menganalisis data dan meningkatkan hasil kesehatan bagi ribuan pasien diabetes yang berisiko. Di India, 1mg menggunakan teknologi untuk membantu pelanggan membandingkan harga layanan medis dari berbagai laboratorium.

Penerapan strategis teknologi seperti AI dapat menjadi bagian penting dari upaya pembangunan kembali, membantu meningkatkan produktivitas dan mendorong generasi baru perusahaan inovatif. Untuk memanfaatkan peluang ini, pembuat kebijakan di negara-negara harus mengambil langkah untuk mempersiapkan masa depan yang didorong oleh kecerdasan buatan. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA