Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

University of Oxford: Vaksin Saat Ini Efektif Cegah Omicron

Rabu 01 Dec 2021 09:01 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Reiny Dwinanda

Vaksin Covid-19 AstraZeneca. University of Oxford yang mengembangkan vaksin Covid-19 bersama AstraZeneca menyebut, vaksin yang ada saat ini masih efektif mencegah varian omicron.

Vaksin Covid-19 AstraZeneca. University of Oxford yang mengembangkan vaksin Covid-19 bersama AstraZeneca menyebut, vaksin yang ada saat ini masih efektif mencegah varian omicron.

Foto: AP/Virginia Mayo
University of Oxford menyebut tak ada bukti vaksin saat ini tak mampu cegah omicron.

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSEL -- Munculnya omicron sebagai varian baru SARS-CoV-2 menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas vaksin yang kini beredar. University of Oxford mengatakan, tidak ada bukti bahwa vaksin yang beredar saat ini tidak mampu mencegah keparahan infeksi varian omicron.

Juru bicara Oxford pada Selasa mengatakan bahwa pengalaman terdahulu dengan kemunculan varian-varian lainnya telah membuktikan manfaat vaksin Covid-19. Sejauh ini, belum ada bukti bahwa omicron dapat membuatnya berbeda.

Baca Juga

"Tetapi jika diperlukan, kami bersama dengan AstraZeneca siap untuk  dengan cepat mengembangkan dan memperbarui vaksin," kata juru bicara Oxford, dikutip Fox News, Selasa.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Badan Obat Eropa (EMA), Emer Cooke, mengatakan kepada Parlemen Eropa bahwa vaksin yang saat ini tersedia di masyarakat dapat terus memberikan perlindungan terhadap varian omicron. Menurutnya, tes laboratorium untuk mengetahui efektivitas vaksin terhadap imicron akan memakan waktu sekitar dua pekan.

Sejauh ini, EMA belum mendapatkan informasi mengenai rencana produsen untuk memutakhirkan vaksin Covid-19. Andaikan ada pengajuan vaksin baru untuk omicron, maka persetujuan mungkin diberikan dalam tiga atau empat bulan ke depan.

"Vaksinasi kemungkinan masih akan membuat Anda tidak masuk rumah sakit," kata Direktur Institut Penn untuk Imunologi di Philadelphia, John Wherry, dikutip Reuters, Selasa.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA