Friday, 19 Syawwal 1443 / 20 May 2022

Masuk TNI, Dudung tidak Ingin Tentara Semena-mena ke Rakyat

Rabu 01 Dec 2021 08:45 WIB

Red: Erik Purnama Putra

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Dudung Abdurachman.

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Dudung Abdurachman.

Foto: Dok Dispenad
KSAD mendidih dan panas HRS menyebut Jokowi dengan kata-kata tidak bagus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Dudung Abdurachman menjelaskan alasannya bergabung dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Menurut dia, pengalaman ditendang seorang tamtama berpangkat Prajurit Dua (Prada) yang menjaga pos Kodam III/Siliwangi, Kota Bandung, membuatnya langsung bercita-cita menjadi tentara.

 

Baca Juga

Pemicunya adalah Dudung yang berjualan klepon sudah kenal dengan penjaga pos piket, sehingga bisa santai masuk Kodam Siliwangi. Suatu ketika, ia langsung saja masuk Kodam Siliwangi. Ternyata, hari itu yang berjaga adalah personel baru yang tidak senang dengan tindakannya langsung masuk Kodam Siliwangi. Dudung pun ditendang hingga membuat 55 biji klepon yang dijualnya jatuh ke lantai.

 

"Nah di situ mulai, saya bilang tentara kok semena-mena seperti ini. Gak boleh, saya berniat jadi tentara, kalau saya jadi tentara saya gak akan semena-mena sama rakyat, gitu," kata Dudung di acara Deddy Corbuzier Podcast dikutip Republika di Jakarta, Rabu (1/12).

 

Dudung mengaku, awalnya ingin kuliah selepas sekolah menengah atas (SMA), bukan masuk ke Akademi Militer (Akmil). Dia mengakui, salah satu alasan memilih mendaftar TNI karena mendapat perlakuan tidak enak dari salah seorang oknum tentara.

 

Kemudian, Dudung menyinggung tindakannya menurunkan ratusan baliho Front Pembela Islam (FPI) bergambar Habib Rizieq Shihab (HRS) dengan tagline Revolusi Akhlak yang tersebar di Jakarta. Deddy menyebut, tindakan Dudung nekat dan berani hingga dijuluki sebagai Jenderal Baliho.

Dudung mengaku, tidak maju sendirian ketika berusaha mencopot baliho FPI pada medio November 2021, melainkan dibantu Satpol PP dan polisi. Menurut Dudung, seruan dalam baliho FPI tidak benar, selain juga melanggar aturan dan tidak membayar pajak.

Karena itu, ia membantu polisi untuk menurunkan baliho FPI yang terpasang di semua jalan di Ibu Kota. Dudung dilantik menjadi Panglima Kodam (Pangdam) Jaya pada 6 Agustus 2020 menggantikan Mayjen Eko Margiyono. Ketika masuk Jakarta, ia mendapati banyak baliho FPI yang seenaknya dipasang di jalanan.

 

"Saya masuk ke Kodam Jaya lihat baliho bergelimpangan, sudah gitu nada-nadanya kok seruan jihad, Revolusi Akhlak lah, sudah ada baliho yang disembah-sembah, saya pelajari apa ini, ya kemudian saya pelajari video-video sebelumnya oleh Rizieq Shihab itu,” kata Dudung.

 

Dia mengaku, tidak terima ketika HRS menjelek-jelekkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia merasa emosi dan akhirnya menindak tegas HRS yang pulang dari Arab Saudi ke Jakarta pada 10 November 2020. Dia merasa tindakan HRS mengolok-olok Jokowi tidak bisa diterima.

 

"Saya lihat berani sekali dia mengatakan pimpinan kita Presiden kita dengan kata-kata tidak bagus, sebagai warga negara, mengganti nama Presiden menjadi tidak benar mendidih darah saya, panas," ucap mantan Gubernur Akmil yang mendirikan patung Bung Karno tersebut.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA