Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Kabut Otak dan Kehilangan Memori, Penyakit Pascacovid-19

Rabu 01 Dec 2021 06:21 WIB

Rep: Mgrol131/ Red: Gita Amanda

Otak (ilustrasi). Sebuah studi penelitian, masih terdapat banyak efek samping yang berpotensi dialami penyintas Covid-19, salah satunya kabut otak dan kehilangan memori.

Otak (ilustrasi). Sebuah studi penelitian, masih terdapat banyak efek samping yang berpotensi dialami penyintas Covid-19, salah satunya kabut otak dan kehilangan memori.

Dari hasil studi banyak penyintas mengalami defisit kognitif atau kesulitan berpikir

REPUBLIKA.CO.ID, Gejala yang dirasakan para pengidap Covid-19 ternyata tidak hanya terjadi saat dirinya mengalami penyakit tersebut. Namun pada sebuah studi penelitian, masih terdapat banyak efek samping yang berpotensi dialami penyintas Covid-19, salah satunya kabut otak dan kehilangan memori.

Dilansir dari Health.com, Covid-19 tidak hanya menyebabkan gejala-gejala yang terjadi selama pasien mengidap penyakit tersebut seperti sesak napas, batuk, demam, dan anosmia. Bahkan setelah pasien sembuh dari virus, masih terdapat banyak potensi gejala pascacovid-19, sebut saja kabut otak dan kehilangan memori.

Baca Juga

Tetapi hal tersebut masih dalam pengembangan para ahli yang mana mereka masih dalam tahap penentuan, apakah sebenarnya kedua gejala pascacovid-19 tersebut benar-benar terjadi karena virus ini atau sebab lainnya. Studi yang dipublikasikan pada 22 Oktober 2021 di JAMA Network Open, membuat analisis data dari 740 orang di rentang usia rata-rata 49 tahun yang mengidap Covid-19 selama 7,5 bulan terakhir. Hasilnya adalah sebagian besar dari mereka mengalami defisit kognitif atau

kesulitan berpikir, seperti kabut otak.

Masalah yang ditemukan umumnya adalah pengkodean memori, yakni mempelajari informasi baru dan ingatan, dimana masing-masingnya terjadi hanya sekitar 24 persen dan 23 persen dari peserta studi. Mereka yang dirawat di rumah sakit dengan mengidap Covid-19 lebih berisiko mengalami masalah tersebut dibandingkan yang dirawat jalan.

"Kami mulai melihat bahwa, dari waktu ke waktu, begitu banyak pasien yang mengeluhkan kesulitan yang tersisa ini (gejala pascacovid-19)," kata Seorang Neuropsikolog Klinis dan Ilmuwan di Divisi Penyakit Dalam Umum di Sekolah Kedokteran Icahn di Rumah Sakit Mount Sinai di New York City, Jacqueline H. Becker, PhD.

Becker mendapati bahwa kabut otak ini berada pada masa long Covid-19, yakni sebuah kondisi misterius yang dapat berkembang pasca Covid-19. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) juga mencatat bahwa kondisi tersebut terjadi di rentang waktu empat minggu atau lebih setelah virus tertular.

Penyebab dari kabut otak dan masalah mental lainnya yang terjadi masih menjadi pertanyaan bagi

segala kalangan. Karena di beberapa studi penelitian pun belum ada yang menyatakan langsung apa yang menjadi penyebab beberapa masalah pascacovid tersebut terjadi.

Hanya salah satu kemungkinannya adalah SARS-CoV-2, yakni virus penyebab Covid-19, yang mana dapat langsung menyerang sistem saraf pusat dan otak. Di teori lainnya, Becker mengatakan bahwa kabut otak bisa saja disebabkan oleh virus yang menyebabkan peradangan kronis, bahkan setelah pasien pulih dari Covid-19.

Walau tidak jelas berapa lama kabut otak ini akan hilang dari pengidapnya, tetapi Becker meyakini bahwa gejala ini dapat disembuhkan, yakni sekitar 10 bulan atau lebih lama dari itu. “Penelitian khususnya mengamati pasien setelah rata-rata tujuh setengah bulan dan masih menemukan ‘kerusakan tingkat tinggi’. Tapi, itu bisa sembuh setelah, katakanlah, 10 bulan atau bertahan lebih lama,” kata Becker.

Meski saat ini ada banyak hal yang belum diketahui terkait kabut otak. Becker dan timnya akan terus meneliti gejala yang timbul setelah Covid-19 ini, agar mendapatkan lebih banyak jawaban atas segala persoalan dari kabut otak ini.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA