Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

Menko PMK: Pengalaman Varian Delta Bekal Atasi Varian Baru

Selasa 30 Nov 2021 16:18 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Bayu Hermawan

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy.

Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy.

Foto: Dok Kemenko PMK
Menko PMK mengatakan pengalaman atasi varian Delta jadi bekal atasi varian baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy, mengatakan tantangan munculnya varian baru dari Covid-19 yang mulai melanda beberapa negara juga patut menjadi ancaman. Namun, berbekal pengalaman menghadapi varian Delta sebelumnya, Indonesia harus lebih siap.

"Kita kan sudah punya pengalaman dalam menghadapi varian Delta. Dengan adanya varian Delta itu juga banyak hikmah misalnya sekarang kondisi faskes kita sangat bagus, ketersediaan oksigen kita sangat baik, kemudian tenaga medis kita juga lebih siap. Jadi banyak hikmah yang kita petik juga dari wabah," kata mantan Mendikbud tersebut dalam keterangan tertulis, Selasa (30/11).

Baca Juga

Lebih lagi, berdasarkan survei Kemendagri, rata-rata tingkat imunitas masyarakat sudah sangat tinggi mencapai 90 persen terutama di kota-kota besar. Artinya, masyarakat sudah cukup kebal menghadapi Covid-19.

"Tetapi memang yang kita khawatirkan kalau varian baru ini nanti bisa menghabisi kekebalan-kekebalan yang sudah didapat itu. Ini yang kita waspadai. Tadi saat rapat, Pak Presiden sudah menugaskan khusus ke Pak Menkes untuk betul-betul memantau varian baru ini bahkan meminta agar di-update per-hari," ujarnya.

Selain itu, sambung Muhadjir, Indonesia juga telah memiliki konsep implementasi dari gotong-royong melalui pendekatan pentahelix. Menurutnya, konsep tersebut terbukti bisa saling bahu-membahu, saling kait-mengait menyukseskan penanganan Covid-19.

"Karena itu, saya dengan rendah hati mengatakan bahwa peranan negara bukan satu-satunya, bahkan hanya sekitar 20 persen saja dalam upaya kita menangani Covid-19 ini. Dan sisanya merupakan peranan dari kelompok-kelompok masyarakat dan peranan-peranan strategis yang sangat mendukung," jelasnya.

Sambatan atau aktivitas gotong-royong, kata Muhadjir, sering dilakukan warga pedesaan yang ada di daerah-daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta, serta daerah lain seluruh Indonesia sangat tepat diaplikasikan dalam upaya menangani pandemi Covid-19 di Tanah Air. Apalagi, pada dasarnya, keberadaan gotong-royong tidak lepas dari falsafah Bangsa Indonesia yaitu Pancasila.

Gotong-royong meliputi makna dari lima sila yaitu spirit ketuhanan, keberpihakan pada sisi kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan demi mencapai keadilan sosial.

"Jadi sebetulnya kita akan tahu makna yang sangat strategis gotong-royong ini ketika kita menghadapi pandemi dan kalau kita membanding dengan apa yang dilakukan oleh negara-negara yang tidak memiliki jiwa gotong-royong, tidak berdasar Pancasila," ucapnya.

Pernyataan Muhadjir diamini juga oleh CEO Kitabisa.com M. Alfatih Timur. Ia mempertegas bahwa Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia menurut Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2021. Salah satu yang menjadikan negara dengan penduduk hampir 280 juta jiwa itu dinilai paling dermawan ialah karena sifat kegotong-royongan masyarakat.

"Ada tiga indikator yang menjadikan Indonesia negara paling dermawan. Satu, masyarakat paling suka berdonasi. Kalau di Kitabisa.com yang sifatnya bottom up, mereka melihat masalah, mereka analisa, mereka bikin penggalangan dana, mereka kumpulkan, mereka implementasi sendiri. Ada lebih dari 3 juta orang baik tahun ini. Dua yaitu kerelawanan. Kita ingat waktu oksigen kurang itu WA grup ramai sekali, sosial media juga. Tiga, membantu orang tidak dikenal," tutur Alfatih.

Seraya menimpali, Menko PMK kembali menambahkan bahwa selain modal gotong-royong yang harus terus dibudayakan dan dilestarikan, sikap empati juga mesti dibangun untuk dapat menggerakkan hati dalam membantu sesama.

"Kita ingat bahwa begitu pandemi selesai bukan berarti semuanya berakhir. Kita harus mengejar ketertinggalan kita untuk pemulihan ekonomi. Tantangan-tantangan pemulihan ekonomi ke depan jauh lebih rawan dari sebelumnya karena kita sudah berhadapan dengan bonus demografi," kata Muhadjir.

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA