Sunday, 28 Syawwal 1443 / 29 May 2022

Moderna: Vaksin yang Ada Kurang Efektif Tangkal Omicron

Selasa 30 Nov 2021 15:08 WIB

Rep: Rizky Jaramaya, Kamran Dikarma/ Red: Reiny Dwinanda

Vaksin Covid-19 Moderna. CEO Moderna menyebut vaksin Covid-19 yang ada saat ini kurang efektif dalam menangkal varian omicron.

Foto:
CEO Moderna menyebut vaksin Covid-19 tak semanjur saat menghadapi delta.

Sebaran omicron
Otoritas Hong Kong telah memperluas larangan masuk bagi non-warga negara dari beberapa negara Afrika, seperti Angola, Ethiopia, Nigeria, dan Zambia mulai 30 November. Selain itu, non-penduduk yang telah bepergian ke Austria, Australia, Belgia, Kanada, Republik Ceska, Denmark, Jerman, Israel, dan Italia dalam 21 hari terakhir tidak akan diizinkan masuk mulai 2 Desember.
 
Di Australia, lima pelancong dinyatakan positif omicron. Mereka saat ini sedang menjalani karantina. Para pejabat mengatakan bahwa mereka tidak menunjukkan gejala atau menunjukkan gejala yang sangat ringan.
 
Kementerian Kesehatan Singapura mengatakan, dua pelancong dari Johannesburg, Afrika Selatan yang positif Covid-19 varian omicron di Sydney, Australia sempat transit di bandara Changi, Singapura. Australia menunda pembukaan kembali perbatasan negara untuk pelajar internasional dan migran terampil.

 
"Kami melakukan ini karena sangat berhati-hati, tetapi pandangan kami bahwa (omicron) adalah varian yang dapat dikelola," kata Menteri Kesehatan Federal Australia Greg Hunt.
 
Varian omricon pertama kali dilaporkan pada 24 November di Afrika Selatan. Kini, omicron telah menyebar ke puluhan negara.
 
WHO telah mendesak negara-negara untuk menggunakan pendekatan berbasis risiko dalam menyesuaikan langkah-langkah perjalanan internasional. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan, rakyat Afrika tidak dapat disalahkan atas munculnya varian baru dan rendahnya tingkat vaksinasi.
 
"Rakyat Afrika tidak dapat disalahkan atas rendahnya tingkat vaksinasi yang tersedia di Afrika, dan mereka tidak boleh dihukum karena mengidentifikasi dan berbagi informasi ilmu pengetahuan dan kesehatan yang penting dengan dunia," kata Guterres.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA