Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Akibat Pandemi, Inflasi Meningkat di Sejumlah Negara

Selasa 30 Nov 2021 10:41 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Friska Yolandha

Warga AS berbelanja di sebuah supermarket di Miami Utara, Florida, Amerika Serikat.

Warga AS berbelanja di sebuah supermarket di Miami Utara, Florida, Amerika Serikat.

Foto: AP Photo/Marta Lavandier
Kenaikan harga dipicu biaya energi yang tinggi dan gangguan rantai pasokan.

REPUBLIKA.CO.ID, HONGARIA -- Terjadi kenaikan harga konsumen di toko peralatan di Amerika Serikat (AS) sampai pasar makanan di Hongaria dan pompa bensin di Polandia. Kenaikan itu dipicu oleh biaya energi yang tinggi dan gangguan rantai pasokan, sehingga membebani rumah tangga dan bisnis di seluruh dunia.

Meningkatnya inflasi menyebabkan kenaikan harga untuk makanan, gas dan produk lainnya. Sekaligus mendorong banyak orang memilih antara merogoh kocek lebih dalam atau mengencangkan ikat pinggang. Di negara berkembang, kondisi ini dinilai sangat mengerikan.

Baca Juga

"Kami telah memperhatikan bahwa kami mengkonsumsi lebih sedikit," ujar Gabor Pardi, seorang pembelanja di pasar makanan terbuka di ibukota Hongaria, Budapest. Ia mengatakannya setelah membeli sekarung sayuran segar baru-baru ini. 

“Kami mencoba berbelanja barang-barang termurah dan paling ekonomis, meskipun tidak terlihat bagus," tutur dia. Ia menjelaskan, hampir dua tahun memasuki pandemi Covid-19, dampak ekonomi dari krisis masih terasa bahkan setelah negara-negara berlomba keluar dari penguncian yang melemahkan dan permintaan konsumen pulih kembali. 

Sekarang, gelombang infeksi lain dan varian virus corona baru yakni omicron, memimpin berbagai negara memperketat perbatasan mereka dan memberlakukan pembatasan lain, yang mengancam pemulihan ekonomi global. Omicron telah menimbulkan kekhawatiran baru kalau pabrik, pelabuhan, dan tempat pengiriman barang dapat terpaksa ditutup sementara, memberikan lebih banyak tekanan pada perdagangan global dan mengirim harga lebih tinggi.

“Sebuah babak baru infeksi dapat semakin memperburuk rantai pasokan, memberikan tekanan yang lebih tinggi pada inflasi,” kata Kepala Ekonom AS di High Frequency Economics Rubeela Farooqi, seperti dilansir AP News, Selasa (30/11). Ia mengatakan, gema ekonomi menghantam Eropa tengah dan Timur terutama dengan keras, berbagaibnegara memiliki beberapa tingkat inflasi tertinggi di 27 negara Uni Eropa dan orang-orang berjuang membeli makanan atau mengisi tangki bahan bakar mereka.

Seorang tukang daging di pasar makanan Budapest bernama Ildiko Vardos Serfozo mengatakan, dia melihat penurunan bisnis karena pelanggan menuju ke rantai grosir multinasional yang dapat menawarkan diskon dengan membeli dalam jumlah grosir besar. “Pembeli peka terhadap harga dan karena itu sering meninggalkan kami, meskipun produk kami berkualitas tinggi. Uang berbicara. Kami melihat bahwa inflasi tidak baik untuk kami. Saya hanya senang anak-anak saya tidak ingin melanjutkan bisnis keluarga ini, saya tidak melihat banyak masa depan di dalamnya," ujarnya.

Di dekat Polandia, Barbara Grotowska, seorang pensiunan berusia 71 tahun, mengatakan di luar supermarket diskon di ibu kota Warsawa. Dia paling terpukul oleh biaya pengumpulan sampahnya yang hampir tiga kali lipat menjadi 88 zlotys atau 21 dolar AS.

Dia juga menyesalkan, minyak goreng yang dia gunakan telah naik sepertiga dari harganya, menjadi 10 zloty atau 2,40 dolar AS. "Itu perbedaan nyata," kata dia.

Kenaikan inflasi baru-baru ini telah mengejutkan para pemimpin bisnis dan ekonom di seluruh dunia. Pada musim semi 2020, virus corona menghancurkan ekonomi global. Pemerintah pun memerintahkan penguncian, bisnis tutup atau memangkas jam kerja dan keluarga tinggal di rumah. 

Baca juga : OJK: Potensi Ekonomi Digital RI Tertinggi di Asia Tenggara 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA