Selasa 30 Nov 2021 08:21 WIB

Harga Minyak Berakhir Lebih Tinggi Dibandingkan Akhir Pekan

Penurunan harga minyak pada akhir pekan lalu merupakan yang terbesar dalam sehari.

Kilang minyak di Midland, Texas, Amerika Serikat.
Foto: AP News
Kilang minyak di Midland, Texas, Amerika Serikat.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Harga minyak memangkas kenaikannya tetapi mengakhiri sesi lebih tinggi pada penutupan perdagangan Senin (29/11). Investor memandang kemerosotan pasar minyak dan keuangan pada Jumat (26/11) akibat tidak adanya lebih banyak data tentang varian baru virus corona Omicron.

Minyak mentah berjangka Brent menetap di 73,44 dolar AS per barel, naik 72 sen atau 1,0 persen, setelah anjlok 9,50 dolar AS pada akhir pekan lalu. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terangkat 1,80 dolar AS atau 2,6 persen menjadi ditutup di 69,95 dolar AS per barel. 

Baca Juga

WTI terpuruk 10,24 dolar AS di sesi sebelumnya.Brent sempat melonjak di atas 77 dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS menyentuh tertinggi di atas 72 dolar AS per barel. Namun, kedua kontrak menyerahkan sebagian keuntungan mereka di akhir sesi.

Dalam perdagangan pasca-penyelesaian, Brent sempat sebentar berubah menjadi berada wilayah negatif dengan volume tipis. Penurunan pada Jumat (26/11) adalah penurunan satu hari terbesar sejak April 2020, mencerminkan kekhawatiran bahwa larangan perjalanan terkait virus corona akan menekan permintaan.

Penurunan itu diperburuk oleh likuiditas yang lebih rendah karena libur AS. "Kami percaya bahwa penurunan harga minyak telah berlebihan," kata Michael Tran, seorang analis di RBC Capital Markets, mencatat bahwa penurunan tajam harga menunjukkan tingkat permintaan yang jauh lebih lemah daripada yang terlihat saat ini.

Jika varian baru dari virus tersebut terbukti resisten terhadap vaksin atau lebih menular daripada varian lain, itu dapat berdampak pada perjalanan, perdagangan, dan permintaan minyak. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan perlu waktu berminggu-minggu untuk memahami tingkat keparahan varian baru tersebut, meskipun seorang dokter Afrika Selatan yang telah merawat kasus mengatakan gejalanya sejauh ini tampak ringan.

Pejabat tinggi dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC Plus, menggemakan pandangan itu, dengan Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman al-Saud mengatakan dia tidak khawatir tentang Omicron, Asharq Business melaporkan. Sementara rekannya dari Rusia mengatakan dia melihat tidak perlunya tindakan mendesak di pasar.

Omicron telah menciptakan tantangan baru bagi OPEC Plus, yang akan bertemu pada 2 Desember untuk membahas apakah akan melanjutkan peningkatan produksi minyak Januari yang dijadwalkan. OPEC Plus telah menunda pertemuan teknis minggu ini untuk mendapatkan waktu guna menilai dampak Omicron.

Harga Brent telah merosot 10 dolar AS dalam dua minggu terakhir. Presiden Joe Biden mendesak warga Amerika untuk tidak panik tentang varian Omicron COVID-19 yang baru dan mengatakan Amerika Serikat bekerja dengan perusahaan farmasi untuk membuat rencana darurat jika vaksin baru diperlukan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement