Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

Jubir: Pemerintah Fokus Kejar Target Vaksinasi Covid-19

Selasa 30 Nov 2021 06:19 WIB

Rep: dian fath risalah/ Red: Hiru Muhammad

Tenaga kesehatan memeriksa kesehatan warga yang akan disuntik vaksin Covid-19 di RPTRA Taman Mandala, Tebet, Jakarta, Senin (29/11). Capaian vaksinasi Covid-19 di wilayah DKI Jakarta dosis pertama sudah mencapai 124,1 persen atau 11.091.875 orang dan dosis kedua 100,5 persen atau 8.987.124 orang. Dengan rincian penerima vaksin 70 persen warga ber-KTP DKI Jakarta dan non KTP DKI Jakarta 30 persen.  Republika/Putra M. Akbar

Tenaga kesehatan memeriksa kesehatan warga yang akan disuntik vaksin Covid-19 di RPTRA Taman Mandala, Tebet, Jakarta, Senin (29/11). Capaian vaksinasi Covid-19 di wilayah DKI Jakarta dosis pertama sudah mencapai 124,1 persen atau 11.091.875 orang dan dosis kedua 100,5 persen atau 8.987.124 orang. Dengan rincian penerima vaksin 70 persen warga ber-KTP DKI Jakarta dan non KTP DKI Jakarta 30 persen. Republika/Putra M. Akbar

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Perluasan dan percepatan program vaksinasi terus dilakukan di sejumlah daerah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini, Pemerintah fokus untuk mengejar target dua dosis vaksin untuk seluruh target sasaran vaksinasi yang berjumlah sekitar 208 juta penduduk.  Berdasarkan data dashboard vaksinasi Covid-19 nasional melalui website vaksin kemkes.go.id per Senin (29/11) pukul 18.00 WIB, total vaksinasi dosis pertama sudah mencapai 139,11 juta dosis.

Sedangkan dosis kedua sudah mencapai 95 juta dosis. Namun, laju vaksinasi harian menurun dari rata-rata dua juta suntikkan per hari. Per Ahad (28/11), jumlah dosis vaksin yang disuntikkan sebanyak 1.084.301. Sementara pada Senin (29/11), sebanyak 794.554.

Baca Juga

Menurut Nadia, guna mengejar cakupan vaksinasi, perluasan dan percepatan program vaksinasi terus dilakukan di sejumlah daerah dengan melibatkan seluruh elemen yang ada."Pemerintah pusat juga mendorong pemerintah daerah, khususnya yang capaian vaksinasinya masih rendah, untuk makin menggencarkan program vaksinasi," kata dr. Nadia dalam keterangan dikutip, Selasa (30/11). 

Kemenkes juga terus mendorong Kabupaten dan Kota untuk memberikan vaksinasi non Sinovac. Terlebih, saat ini sudah ada varian baru yang muncul yakni Omnicron yang lebih infeksius dari varian Delta. 

Upaya lain yang dilakukan, lanjut Nadia, dengan menjadikan vaksinasi syarat untuk beberapa kegiatan seperti saat akan masuk ke dalam mall, pelaku perjalanan, penyaluran bantuan sosial. Kemudian pengurusan administrasi dan beberapa kegiatan lainnya."Pastinya sesuai dengan inovasi dari berbagai Pemda, Provinsi, Kabupaten dan Kota. Hal ini tentunya untuk percepatan vaksnasi daerahnya," terang Nadia.

Selain itu, laju vaksinasi Covid-19 juga akan terus digunakan sebagai indikator dalam evaluasi penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali. Kebijakan ini mampu meningkatkan laju vaksinasi di wilayah tersebut, khususnya vaksinasi bagi kelompok masyarakat lanjut usia atau lansia. Dia pun mengimbau masyarakat tidak perlu perlu ragu dengan vaksin yang ada. Masyarakat juga diminta tidak memilih-milih merk vaksin, gunakan vaksin yang tersedia terlebih dulu saat ini.

Pemerintah, lanjutnya, menjamin vaksin yang diberikan kepada masyarakat aman, bermutu, dan berkhasiat. dr. Nadia memastikan, vaksin membuat tubuh relatif lebih tahan serangan virus, bisa menghindarkan dari gejala, perawatan di rumah sakit dan mengurangi risiko kematian. 

Akan tetapi memang tidak menjadikan seseorang kebal 100 persen terhadap infeksi virus, sehingga masih dapat tetap tertular dan menularkan. Karenanya, bagi yang sudah divaksin agar tetap menjalankan protokol kesehatan 5M, memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

"Semua vaksin sama baik dan berkhasiatnya. Vaksin terbaik adalah vaksin yang tersedia apalagi saat ini sudah diumumkan adanyaa kembali varian baru dari virus Covid 19 yang lebih cepat menular dan dapat mengelabui sistim kekebalan tubuh kita, sehingga penting untuk kita segera memproteksi diri kita dan juga secara bersamaan membentuk benteng bersama untuk mecegah varian baru dan penyebarannya" tegasnya.

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA