Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

Satelit NASA Pecahkan Rekor Jarak Terdekat dengan Matahari

Senin 29 Nov 2021 17:48 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani / Red: Dwi Murdaningsih

Pemandangan Venus yang ditangkap oleh pesawat parker Solar Probe.

Pemandangan Venus yang ditangkap oleh pesawat parker Solar Probe.

Foto: nasa
Wahana Parker Solar Probe milik NASA memecahkan rekor jarak dan kecepatan.

REPUBLIKA.CO.ID, CAPE CANAVERAL -- Parker Solar Probe, wahana Badan Antariksa Amerika (NASA) membuat sepasang rekor baru. Satelit ini resmi menjadi objek buatan manusia yang berada dalam jarak terdekat dengan matahari sekaligus objek buatan dengan kecepatan tertinggi.

Satelit ini telah berhasil dan bertahan dari pertemuan jarak dekat ke-10 dengan Matahari. Pada 21 November pukul 04.25 EST (08.25 GMT), robot penjelajah luar angkasa berada dalam jarak 5,3 juta mil (8,5 juta km) dari permukaan Matahari dan mencapai kecepatan 586.864 km/jam.

Baca Juga

Dilansir dari New Atlas, Ahad (28/11), Parker Solar Probe diluncurkan pada 12 Agustus 2018 dari Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral di atas roket Delta IV Heavy. Penerbangan terdekat atau flyby surya terbaru antara 16 dan 26 November menandai titik tengah dalam misi tujuh tahun pesawat ruang angkasa untuk mempelajari Matahari. Satelut ini pada akhirnya akan terbang melalui korona Matahari.

Satelit ini telah mengalahkan pemegang rekor, pesawat ruang angkasa Helios-2 dan kecepatan maksimumnya 252.792 km/jam. Rekor kecepatan terbarunya mengalahkan rekor sebelumnya, seperti yang akan terjadi pada rekor kecepatan masa depan yang diperkirakan akan dicapai oleh probe di flyby selanjutnya.

FLyby ke-10 ini adalah salah satu dari 24 orbit yang semakin dekat ke Matahari menggunakan tarikan gravitasi Venus dalam serangkaian tujuh flyby. Satelit akhirnya berada dalam jarak 6,9 juta/km  dari permukaan bintang kita dan mencapai kecepatan lebih dari 690.000 km/jam.

Pesawat ini sangat terlindung dari panas dan radiasi, tetapi masih rentan terhadap kerusakan dan membangun muatan listrik berbahaya dari radiasi matahari. Orbitnya yang sangat elips memungkinkannya pulih di antara pertemuan jarak dekat dan untuk mengirimkan data sensor yang direkam kembali ke Bumi tentang korona Matahari, medan magnet, dan dinamika partikel energi matahari.

Menurut NASA dan operator misi di Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins di Laurel, Maryland, pesawat ruang angkasa itu dalam keadaan baik. Pesawat beroperasi secara normal, dan akan mulai mengirimkan temuannya pada 24 Desember hingga 9 Januari 2022.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA