Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Satgas Covid-19 Yogyakarta Diminta Waspadai Gelombang Ketiga

Senin 29 Nov 2021 05:52 WIB

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Nashih Nashrullah

Provinsi Yogyakarta diminta waspadai lonjakan Covid-19 karena marak wisatawan. Ilustrasi Yogyakarta

Provinsi Yogyakarta diminta waspadai lonjakan Covid-19 karena marak wisatawan. Ilustrasi Yogyakarta

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Provinsi Yogyakarta diminta waspadai lonjakan Covid-19 karena marak wisatawan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 DIY diminta untuk melakukan persiapan dini terkait potensi adanya gelombang ketiga penyebaran Covid-19 di daerah istimewa Yogyakarta (DIY) 

Hal ini disampaikan Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana mengingat para epidemiolog yang sudah memperingatkan terkait potensi gelombang ketiga Covid-19. 

Baca Juga

"Ancaman munculnya gelombang ketiga Covid-19 di DIY harus diwaspadai, para epidemiolog sudah memperingatkan kita kemungkinan ini, sehingga harus dipersiapkan sejak dini," kata Huda dalam keterangan resminya, Ahad (28/11). 

Huda menuturkan, Satgas Covid-19 DIY diminta untuk melakukan persiapan mulai dari shelter, rumah sakit, oksigen dan koordinasi yang baik dengan pihak-pihak terkait. 

Persiapan sejak dini, katanya, dilakukan agar melonjaknya kasus positif hingga kematian Covid-19 seperti Juni dan Juli 2021 lalu tidak terjadi kembali.

Terlebih menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2022, yang mana DIY sudah ramai dikunjungi wisatawan. Sehingga, ada potensi meningkatnya penambahan kasus baru positif Covid-19 di DIY. 

Meskipun, saat ini penambahan kasus Covid-19 di DIY dinilai masih terkendali yakni rata-rata di bawah 50 kasus baru per hari. Namun, pada 25 dan 27 November kemarin sempat naik di angka 79 kasus dan 68 kasus baru. 

"Kita tidak ingin jatuh korban lagi sebagaimana yang telah lalu, apalagi pekan ini DIY dua kali menduduki ranking pertama penularan di Indonesia," ujar Huda. 

Huda juga menegaskan agar protokol kesehatan tetap dijalankan dengan ketat oleh seluruh lapisan masyarakat. Huda juga meminta kepada Pemda DIY maupun pemerintah kabupaten/kota untuk menyisir kembali warga yang belum divaksin, meskipun capaian vaksinasi secara keseluruhan di DIY sendiri sudah di atas 95 persen untuk dosis pertama. 

"Kita semua berdoa agar Covid-19 ini semakin landai, terkendali dan tidak lagi muncul gelombang ketiga atau selanjutnya. Tetapi tidak ada salahnya sedia payung sebelum hujan, sehingga akan meminimalkan dampak yang terjadi," jelasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, mengatakan pihaknya terus memasifkan testing, tracing dan treatment (3T). Hal ini dilakukan dalam rangka mengantisipasi adanya gelombang ketiga penularan Covid-19. 

Diharapkan, saat libur Nataru maupun pascalibur Nataru tidak ada kenaikan kasus di Yogyakarta karena sudah dilakukan pendeteksian sejak dini.

"Untuk antisipasi agar tidak terjadi gelombang tiga, kita melaksanakan 3T," kata Emma kepada Republika beberapa waktu lalu. 

Pihaknya juga mengintensifkan skrining acak terhadap wisatawan di tempat umum dan kawasan wisata seperti di Malioboro. Termasuk skrining di sekolah-sekolah, skrining terhadap ASN dan petugas lapangan. 

"Di Malioboro kita juga buka Sabtu dan Ahad jam 15.00-17.00 WIB untuk menjaring wisatawan yang belum vaksin, serta sampling pemeriksaan dengan antigen," ujar Emma. 

Terkait skrining di sekolah, sudah mulai dilakukan sejak pekan kemarin. Skrining dilakukan terhadap peserta didik dan tenaga didik menggunakan PCR. 

Skrining di sekolah dilakukan untuk memastikan tidak ada penularan Covid-19 yang terjadi di sekolah. Mengingat, saat ini pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas juga berlangsung di Kota Yogyakarta. 

Per sekolah, 10 persen dari total peserta didik menjadi sasaran skrining. Pihaknya menargetkan seribu lebih peserta didik dan tenaga didik yang diskrining per harinya. 

"Jadi untuk skrining kita ambil per sekolah itu misalnya 30-an siswa dari total 300 murid dengan tiga pendidik untuk diskrining. Kalau siswanya banyak, maka banyak juga yang diskrining, sudah ada hitungan proporsionalnya," ujarnya.   

 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA