Thursday, 25 Syawwal 1443 / 26 May 2022

Hadapi Omicron, Menkes: Pemerintah Selalu Berbasis Data

Ahad 28 Nov 2021 23:26 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Nashih Nashrullah

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, mengatakan kebijakan pemerintah hadapi omicron merujuk pada data

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, mengatakan kebijakan pemerintah hadapi omicron merujuk pada data

Foto: Antara/Galih Pradipta
Kebijakan pemerintah hadapi omicron merujuk pada data

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Pemerintah selalu mengambil kebijakan berbasis data. Termasuk dalam menghadapi ancaman varian baru virus corona B1.1.529 atau yang disebut Omicron.

"Pemerintah Indonesia mengambil kebijakan selalu berbasis data. Jadi kita juga tidak perlu Terlalu panik terburu-buru dan mengambil kebijakan yang tidak berbasis data, " tegas Budi dalam Konfrensi Pers secara daring, Ahad (28/11).

Baca Juga

Sampai saat ini sudah ada 128 kasus yang terkonfirmasi di setidaknya sembilan negara. Varian yang pertama kali dilaporkan oleh Afrika Selatan ini juga diketahui memiliki mutasi terbanyak dibandingkan varian lainnya.

"Jadi kita lihat kasus konfirmasi positif itu 9 negara dengan 128 kasus. Kasus yang masih mungkin masih ada di 4 negara lainnya. Jadi total ada 13 negara 9 sudah pasti ada empat masih kemungkinan ada," kata Budi.

Dari sembilan negara tersebut, paling banyak terdeteksi di Afrika Selatan Botswana, Inggris, Hongkong dan Australia. Beberapa negara yang paling banyak melakukan penerbangan ke Indonesia adalah Hongkong, Italia, Inggris baru Afrika Selatan.

"Sudah pasti ada yang Omicron resiko terbesar ada dari Hongkong ,Italia, Inggris baru Afrika Selatan pada penerbangan yang sering itu. Sedangkan yang kemungkinan ada (varian Omicron) dari Belanda Jerman," kata Budi.

Budi menerangkan, mutasi varian Omicron ini sangat cepat, karena mutasinya sangat banyak dan mutasi-mutasi yang berbahaya dari varian-varian sebelumnya ada di varian Omicron.

"Mutasi ada sekitar 50, 30 mutasinya ada di spike protein di mahkota dari coronanya, dan banyak mutasi mutasi yang ada di varian Alfa Beta Delta dan Gamma yang buruk-buruk yang diidentifikasi," tutur Budi.

Ia menjelaskan, mutasi yang buruk itu dibagi menjadi tiga kelompok, kelompok yang pertama adalah kelompok mutasi yang meningkatkan keparahan. Informasi dari Afrika Selatan, menunjukan tidak ada perbedaan gejala dan mirip dengan varian lain. Beberapa individu pun diketahui tidak bergejala.

Kemudian, kelompok kedua adalah mutasi yang meningkatkan transmisi penularan. Kemungkinan, kata Budi, varian Omicron ini lebih cepat menular dibanding varian Delta dan re-infeksi.

Untuk kelompok ketiga adalah mutasi varian ini menunjukan efek signifikasi terhadap penurunan kemampuan antibodi dalam menetralisasi virus. Namun, efek resistensi terhadap vaksinasi belum diketahui.

"Jadi Omicron ini, untuk kelompok meningkatkan keparahan, sampai sekarang belum ditemukan indikasi bahwa varian Omicron Ini meningkatkan keparahan, belum teridentifikasi, untuk meningkatkan transmisi penularan kemungkinan besar Omicron lebih cepat penularan, sampai saat ini masih berjalan risetnya," ujar Budi.

"Dan apakah Omicorn bisa atau menurunkan kemampuan antibodi dari infeksi atau vaksinasi sebelumnya kemungkinan besar iya, tapi balik lagi belum dikonfirmasi," sambung Budi.

Budi berjanji , pihaknya akan memperketat pengawasan di pintu masuk Indonesia. Pengunjung dari luar negeri kini wajib karantina selama tujuh hari dan semua sampel yang terdeteksi positif akan dilakukan tes genom sekuensing.

"Kami akan pastikan semua kantor karantina pelabuhan di udara, laut, dan darat bekerja dengan keras. Kebijakan kita semua kedatangan internasional akan kita tes PCR, kalau positif genom sekuensing," ujar Mantan Wakil Menteri BUMN itu.

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) menamakan varian baru virus corona yang ditemukan di Afrika Selatan sebagai Omicron. Varian ini kini juga berada dalam daftar perhatian WHO. Virus corona jenis baru ini sebelumnya bernama B.1.1.529. Menurut WHO, kasus positif akibat varian ini meningkat di hampir semua provinsi di Afrika Selatan.

"Varian ini memiliki sejumlah besar mutasi, beberapa di antaranya mengkhawatirkan," begitu pernyataan resmi WHO. Varian Omicron pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November lalu.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA