Monday, 2 Jumadil Awwal 1443 / 06 December 2021

Monday, 2 Jumadil Awwal 1443 / 06 December 2021

Ibadah, Hidup, dan Mati Hanya Untuk Allah

Kamis 25 Nov 2021 21:33 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil

Ibadah, Hidup, dan Mati Hanya Untuk Allah. Foto: Alquran (Ilustrasi)

Ibadah, Hidup, dan Mati Hanya Untuk Allah. Foto: Alquran (Ilustrasi)

Foto: republika
Penjelasan ibadah, hidup, dan mati hanya untuk Allah ada di Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alquran menjelaskan bahwa semua ibadah, hidup dan mati seorang hamba hanya untuk Allah SWT. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-An'am Ayat 162.

قُلْ اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ

Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam." (QS Al-An'am: 162)

Tafsir Kementerian Agama menerangkan, dalam ayat ini Nabi Muhammad diperintahkan agar mengatakan bahwa sesungguhnya sholatnya, ibadahnya, serta semua pekerjaan yang dilakukannya, hidup dan matinya adalah semata-mata untuk Allah, Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Itulah yang diperintahkan kepadanya.

Rasul adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah dalam mengikuti dan mematuhi semua perintah dan larangan-Nya. Dua ayat ini mengandung ajaran Allah kepada Muhammad, yang harus disampaikan kepada umatnya, bagaimana seharusnya hidup dan kehidupan seorang Muslim di dalam dunia ini.

Semua pekerjaan sholat dan ibadah lainnya harus dilaksanakan dengan tekun sepenuh hati karena Allah, ikhlas tanpa pamrih. Seorang Muslim harus yakin kepada kodrat dan iradat Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah-lah yang menentukan hidup mati seseorang.

Oleh karena itu seorang Muslim tidak perlu takut mati dalam berjihad di jalan Allah dan tidak perlu takut hilang kedudukan dalam menyampaikan dakwah Islam, amar ma'ruf nahi munkar. Ayat ini selalu dibaca dalam sholat sesudah takbiratul ihram sebagai doa iftitah.

Dalam ayat ini terdapat perintah kepada Nabi Muhammad agar mengatakan kepada kaumnya, bahwa mengapa ia akan mencari Allah yang lain dengan mempersekutukan-Nya dalam ibadah, berdoa untuk keperluan hidupnya agar Dia menolongnya atau melindunginya dari kesusahan dan bahaya? Maha Suci Allah dari persekutuan itu. Dialah Tuhan bagi segala sesuatu, Dialah yang menciptakan semesta alam.

Selanjutnya pada ayat ini diterangkan, bahwa semua perbuatan manusia akan dipertanggungjawabkannya sendiri, dan orang yang berbuat dosa akan menanggung sendiri dosanya itu, karena dosa seseorang tidak akan dipikul oleh orang lain. Masing-masing menerima pahala amal baiknya dan memikul dosa amal buruknya.

Ayat ini cukup memberi petunjuk dan jalan hidup yang bermutu tinggi dan praktis, karena di samping harus beramal dan bekerja, harus pula diperhitungkan dengan cermat dan teliti setiap amal perbuatan yang dikerjakannya. Sebab amal pekerjaan atau perbuatan itu sangat besar pengaruhnya dalam membawa nasib keberuntungan dan keruntuhan seseorang, baik di dunia maupun di akhirat. Di akhirat, perselisihan manusia dalam beragama akan diselesaikan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA