Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

Inggris Khawatir Oksimeter Bias Rasial, Maksudnya?

Jumat 26 Nov 2021 04:01 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Reiny Dwinanda

Pulse oximeter menjadi alat yang direkomendasikan ada di rumah semasa pandemi Covid-19. Pembacaannya bisa kurang akurat pada orang berkulit gelap.

Pulse oximeter menjadi alat yang direkomendasikan ada di rumah semasa pandemi Covid-19. Pembacaannya bisa kurang akurat pada orang berkulit gelap.

Foto: Reiny Dwinanda/Republika
Oksimeter nadi dikhawatirkan memiliki bias rasial.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Menteri Kesehatan Inggris Sajid Javid telah mengumumkan penyelidikan terhadap pengembangan oksimeter yang diduga bias rasial secara sistemik. Perangkat medis yang penting saat pandemi Covid-19 ini dikembangkan di negara yang didominasi kulit putih.

Penyelidikan dilakukan di tengah kekhawatiran pembacaan oksimeter mungkin kurang akurat untuk orang yang memiliki warna kulit gelap. Inggris berencana untuk menggandeng Amerika Serikat dalam mengidentifikasi penyebab orang dari ras maupun etnis minoritas memiliki kondisi kesehatan yang lebih buruk.

Temuan tersebut telah menimbulkan kekhawatiran bahwa orang-orang dari kelompok etnis tertentu yang mungkin terinfeksi Covid-19, namun tidak terdiagnosis dengan akurat. Hal itu berpotensi menyebabkan ribuan kematian yang seharusnya bisa dihindari.

Baca Juga

Dalam sebuah artikel di Sunday Times, Javid mengatakan, sangat mudah untuk mengandalkan sebuah mesin dan berasumsi bahwa setiap orang mendapatkan pengalaman yang sama. Faktanya tidak demikian..

"Tetapi teknologi diciptakan dan dikembangkan oleh orang-orang, sehingga bias, meskipun tak disengaja, juga dapat menjadi masalah di sini," ujar Javid, seperti dikutip laman Times Now News, Kamis (25/11).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA