Saturday, 22 Rabiul Akhir 1443 / 27 November 2021

Saturday, 22 Rabiul Akhir 1443 / 27 November 2021

Bencana Buruk Migran di Selat Inggris

Kamis 25 Nov 2021 13:37 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

 Petugas penyelamat tiba di Pelabuhan Calais, utara Prancis, Rabu (24/11/2021). Petugas mengevakuasi korban yang meninggal akibat perahu karet tenggelam di Selat Inggris.

Petugas penyelamat tiba di Pelabuhan Calais, utara Prancis, Rabu (24/11/2021). Petugas mengevakuasi korban yang meninggal akibat perahu karet tenggelam di Selat Inggris.

Foto: AP/Michel Spingler
Inggris dan Prancis sepakat mencegah migran seberangi selat Inggris.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Rabu (24/11) sepakat meningkatkan upaya bersama  mencegah penyeberangan migran di Selat Inggris. Kesepakatan ini dicapai setelah 31 migran tewas ketika perahu karet mereka terbalik di Selat Inggris.

Seorang juru bicara perdana menteri Inggris mengatakan, Johnson dan Macron menyetujui upaya bersama untuk mencegah penyeberangan migran dari Prancis ke Inggris. Kedua pemimpin juga sepakat mengerahkan segala upaya menghentikan pihak yang bertanggung jawab terhadap pengiriman para migran secara ilegal.

 “Mereka menggarisbawahi pentingnya kerja sama yang erat dengan tetangga di Belgia dan Belanda, serta mitra di seluruh benua jika kita ingin mengatasi masalah secara efektif sebelum orang mencapai pantai Perancis,” ujar juru bicara perdana menteri Inggris.

Sebelumnya sebanyak 31 orang, termasuk lima wanita dan seorang gadis kecil tewas setelah perahu karet mereka terbalik di Selat Inggris saat menyeberang dari Perancis ke Inggris. Ini merupakan bencana terburuk yang melibatkan para migran di perairan yang memisahkan kedua negara itu.

Selat Inggris adalah salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia dan memiliki arus yang kuat. Perahu-perahu yang kelebihan muatan seringkali nyaris tidak bertahan dan berada di bawah kekuasaan ombak saat mereka mencoba mencapai pantai Inggris.

Menteri Dalam Negeri Prancis, Gerald Darmanin, mengatakan, sebanyak 34 orang telah berada di dalam perahu karet tersebut. Dalam insiden ini, 31 penumpang meninggal, sementara dua penumpang berhasil diselamatkan dan satu penumpang lain masih hilang.
"Ada dua orang yang selamat, tapi nyawa mereka dalam bahaya, mereka menderita hipotermia parah," ujar Darmanin.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA