Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Taliban dan Perusahaan Australia Bangun Pengolahan Ganja

Kamis 25 Nov 2021 08:49 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Ladang Ganja (Ilustrasi)

Ladang Ganja (Ilustrasi)

Nilai investasi pengolahan ganja di Afghanistan mencapai 450 juta dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL – Taliban menandatangani kesepakatan dengan perusahaan Australia, Cpharm, untuk mendirikan pusat pemrosesan ganja di Afghanistan. Nilai investasi dalam proyek itu dilaporkan mencapai 450 juta dolar AS.

Seperti dilaporkan laman Al Arabiya, dalam pengumumannya pada Rabu (24/11), Direktur Pers Taliban Qari Saeed Khosty mengungkapkan, kontrak terkait pendirian pusat pemrosesan ganja telah ditandatangani. Proyek itu bakal dimulai dalam dalam beberapa hari mendatang.

Khosty mengungkapkan, nantinya Cpharm, yang memproduksi krim obat ganja, akan diberikan akses ke ribuan hektare tanaman ganja di Afghanistan. Menurut kantor berita Pajhwok, wakil menteri Taliban untuk urusan narkotika telah melakukan pertemuan dengan perwakilan Cpharm pada Selasa (23/11). Cpharm menjanjikan investasi 450 juta dolar AS untuk proyek pembuatan pusat pemrosesan ganja tersebut.

Taliban berhasil mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada pertengahan Agustus lalu. Sejak saat itu, krisis ekonomi dan kemanusiaan di sana kian memburuk. Aksi kejahatan, seperti penculikan dan perampokan, dilaporkan meningkat tajam di berbagai daerah, terutama ibu kota Kabul.

Pekan lalu, Taliban meminta Kongres Amerika Serikat (AS) mengambil langkah bertanggung jawab untuk mengatasi krisis kemanusiaan dan ekonomi yang sedang berlangsung di Afghanistan. Menurut mereka, langkah Kongres dapat mencairkan aset Afghanistan yang dibekukan Pemerintah AS dan mencabut sanksi terhadap Afghanistan.

"Ketika bulan-bulan musim dingin semakin dekat di Afghanistan, dan dalam keadaan di mana negara kami telah dihantam virus korona, kekeringan, perang, dan kemiskinan, sanksi Amerika tidak hanya merusak perdagangan serta bisnis tetapi juga dengan bantuan kemanusiaan,” Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Mutaqqi dalam surat terbuka yang ditujukan untuk anggota Kongres AS pada Rabu (17/11), dikutip Anadolu Agency.

Dia mengungkapkan, pemerintahan Taliban terkejut saat Pemerintah AS mengumumkan penerapan sanksi pada aset bank sentral Afghanistan. “Ini bertentangan dengan harapan kami serta Perjanjian Doha,” ucapnya merujuk pada perjanjian damai antara AS dan Taliban yang tercapai pada Februari tahun lalu.

Saat ini AS diketahui membekukan aset asing Afghanistan senilai lebih dari sembilan miliar dolar. Pembekuan itu dilakukan sejak Taliban mengambil alih kekuasaan di Afghanistan pada pertengahan Agustus lalu.

Baca Juga

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA