Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

Sejarah Pekojan, Macan, Edam, Pantara di Kepulauan Seribu

Kamis 25 Nov 2021 06:52 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Masjid Pekojan usai pemugaran pada tahun 1784.

Masjid Pekojan usai pemugaran pada tahun 1784.

Foto: Ridwan Saidi
Banyak toponimi nama di Kepulauan Seribu

IHRAM.CO.ID, Oleh: Muhammad Subarkah, Politisi Senior, Sejarawan, Budayawan Betawi.

Orang Moor, atau Moro, di Andunisi (Dialek orang di Makkah pada abad 18 menyebut Indonesia, red) diperkirakan sejak IX M berdasar mulai hidupnya ekonomi Andunisi sejak abad tersebut. Mereka datang dari Afro berbahasa Swahili.

Di Jakarta mereka tinggal di Yapat Sunda Kalapa, Pekojan, dan pulau Bidadari.

Foto di atas masjid orang Moor di Pekojan. Mesjid difoto setelah pemugaran tahun 1784. Tidak diketahui sejak kapan masjid ini berdiri. Banyak pulau-pulau di kepulauan Seribu yang tak diketahui muasal penduduknya.

Pulau Kotok artinya pohon dalam bahasa Armen, dalam Betawi buta. Pulau Semak artinya bukan belukar tapi daun. Daun dalam bahasa Khmer disebut petir. Di Pamulang ada toponim Pondok Petir.

Pulau Macan bukan 'tiger' tapi murni. Ini misalnya, hei itu orang 'berhati macan', maknanya itu orang baik-baik.

Pulau Tidung juga artinya daun. Yang tak dapat dipaham kenapa ada pulau dinamakan Perempuan Tua? Itulah pulau Pari. Sebaliknya ada pulau Putri, dan ada lagi pulau Bidadari.

Pulau Sepa artinya bawang. Dalam Betawi kata sepa artinya jenis rasa. Pulau terjauh itulah Pantara. Dua jam perjalanan dengan speedboat dari Marina Ancol.

Pemda DKI era Ali Sadikin paling suka gonta ganti nama pulau. Nama lama pulau Pramuka itu Pelemparan, kenapa mesti diganti?

Edam nama pulau, juga nama jalan di Priyuk. Edam artinya mercu suar. Di Sunda Kalapa disebut lentera. 

Baca juga : Macan Tutul, Sang Pengawal Hutan di Pulau Jawa

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA