Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Friday, 28 Rabiul Akhir 1443 / 03 December 2021

Jalan Terjal Xavi

Rabu 24 Nov 2021 10:36 WIB

Rep: Muhammad Ikhwanuddin/ Red: Muhammad Akbar

Pelatih kepala FC Barcelona Xavi Hernandez bereaksi pada pertandingan sepak bola LaLiga Spanyol antara FC Barcelona dan RCD Espanyol yang diadakan di stadion Camp Nou di Barcelona, ??Spanyol, Ahad (21/11) dini hari WIB.

Pelatih kepala FC Barcelona Xavi Hernandez bereaksi pada pertandingan sepak bola LaLiga Spanyol antara FC Barcelona dan RCD Espanyol yang diadakan di stadion Camp Nou di Barcelona, ??Spanyol, Ahad (21/11) dini hari WIB.

Foto: EPA-EFE/Quique Garcia
melangkah ke Liga Champions, bukan kemenangan yang bisa didapatkan Xavi.

REPUBLIKA.CO.ID, BARCELONA -- Keputusan Xavi Hernandes melatih Barcelona merupakan tanggung jawab besar. Ia dihadapkan dengan serangkaian persoalan internal tim yang memengaruhi perjalanan klub musim ini di berbagai kompetisi.

Pelatih berusia 41 tahun itu sukses mencatat debut manis dengan Barcelona lewat kemenangan 1-0 di La Liga Spanyol, akhir pekan lalu. Namun, saat melangkah ke Liga Champions, bukan kemenangan yang ia dapatkan.

Pada pekan kelima Grup E Liga Champions, Blaugrana menjamu Benfica di Camp Nou, Rabu (24/11) dini hari WIB. Xavi yang baru kembali menapakkan kaki di kompetisi kasta tertinggi Eropa itu harus puas dengan hasil imbang tanpa gol.

Dari dua pertandingan di bawah kendali Xavi, timnya hanya mampu mencetak satu gol. Barcelona memang jauh lebih unggul dengan catatan 17 peluang yang tiga di antaranya tepat sasaran. Namun, tidak ada satu pun yang bersarang di gawang Benfica.

Dari hasil itu, terbukti bahwa produktivitas menjadi salah satu persoalan yang harus segera diperbaiki. Sebab jika Xavi tak segera melakukan evaluasi, bukan tak mungkin hasil buruk akan menimpa timnya.

Baca juga : Xavi Dilaporkan Tertarik Boyong Werner ke Camp Nou

Di Grup E, Barcelona juga masih menduduki peringkat kedua dengan koleksi tujuh poin. Namun, mereka masih terancam oleh kehadiran Benfica yang menguntit dari peringkat ketiga dengan lima angka.

Selisih poin yang tipis memungkinkan Barcelona tergusur dari tempatnya saat ini. Karena itu, mereka wajib mengalahkan Bayern Muenchen di laga pamungkas pada 8 Desember mendatang demi mengamankan satu tempat di babak 16 besar.

Sebab jika Benfica mampu menang atas Dynamo Kiev dan Barcelona dikalahkan Bayern Muenchen, Barcelona terpaksa berkompetisi di Liga Europa: sebuah turnamen kasta kedua yang mungkin merupakan sebuah penghinaan bagi tim sekelas Barcelona.

Xavi dan anak buahnya mungkin memiliki kesempatan besar mengingat Bayern Muenchen sudah lebih dulu menapakkan satu kaki di fase knockout karena mengemas 15 poin. Namun, pada saat yang sama, FC Hollywood tentu tidak ingin rekor sempurna tanpa kekalahan dan hasil imbang di Liga Champions musim ini terganggu.

Jika Barcelona kontra Bayern Muenchen berakhir imbang dan Benfica berhasil menang, Barcelona hanya bisa berharap pada hasil head-to-head. Sejauh ini pihak Catalan lebih payah soal itu karena pernah dikalahkan Benfica dengan skor 0-3 di awal babak penyisihan. Namun, apabila Barcelona kalah, tidak ada pilihan selain berharap Dynamo Kiev mengalahkan Benfica.

Baca juga : Kalahkan Villarreal 0-2, MU Lolos ke 16 Besar Liga Champions

Sudah terlalu banyak catatan buruk Barcelona di Liga Champions selama beberapa musim. Kekalahan 0-4 dan 1-4 oleh Paris Saint-Germain (PSG), kemudian menyerah 0-3 dua kali di tangan Juventus, 0-3 melawan AS Roma, 0-4 menghadapi Liverpool, lalu dipermalukan 2-8 serta 0-3 ketika berjumpa Bayern Muenchen.

Pola tiki-taka yang sempat menjadi ciri khas Barcelona selama satu dekade dianggap sudah mulai luntur. Berangkat dari hal itulah Xavi diharapkan mengembalikan jiwa Barcelona yang sebenarnya.

Di satu sisi, Xavi perlu lebih dulu membuat timnya kembali kompetitif. Ia harus meningkatkan disiplin di luar lapangan sebelum membawanya ke dalam arena. 

Setelah itu, Xavi dapat secara perlahan memperbaiki klub saat ini berada di urutan keenam klasemen La Liga Spanyol 2021/2022. Ia juga harus memproyeksikan gelar Eropa yang terakhir kali direbut pada 2015.

Dengan pengalaman melatih yang tidak bisa dianggap cukup asam garam, Xavi berhadapan dengan rencana besar sekaligus tanggung jawab mengembalikan harga diri tim.

Keputusannya mengandalkan pemain senior seperti Gerard Pique, Sergio Busquets, dan merekrut kembali Dani Alves untuk dipadukan dengan pemain muda, seperti Pedri, Gavi, dan Ansu Fati diharapkan dapat menghadirkan secercah harapan.

Baca juga : Begini Tampang Pemerkosa Siswa SD Anak Panti di Kota Malang

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA