Tuesday, 25 Rabiul Akhir 1443 / 30 November 2021

Tuesday, 25 Rabiul Akhir 1443 / 30 November 2021

Misi ‘Mematikan’ Liga Super Eropa Jilid Dua

Rabu 24 Nov 2021 09:00 WIB

Red: Muhammad Akbar

logo uefa

logo uefa

Foto: football italia
pihak Uni Eropa didesak untuk memastikan "persaingan yang adil dan terbuka".

REPUBLIKA.CO.ID, SWISS — Gagasan untuk melanjutkan proyek Liga Super Eropa sepertinya belum mencapai pengujung jalan. Ada sinyal bahwa para penggagasnya, dalam hal ini Real Madrid, Barcelona, dan Juventus, berniat untuk melanjutkan proyek yang telah dideklarasikan pada April silam.

Ketika gelagat ketiga klub Eropa itu mulai Tercium, otoritas sepak bola Eropa (UEFA) langsung bergerak cepat. Istilahnya, tak boleh sampai kecolongan hingga dua kali.  

Suara pun langsung disampaikan UEFA. Otoritas sepak bola Eropa ini langsung menyambut baik resolusi parlemen Uni Eropa yang menentang "kompetisi terpisah" seperti Liga Super Eropa. Suara ini lekas digaungkan karena masih ada pihak yang memang menyatakan dukungannya agar pihak Uni Eropa bisa memastikan "persaingan yang adil dan terbuka".

Sebagaimana diketahui pada dua belas klub terkemuka Eropa pada April mengumumkan maksud mereka membuat Liga Super baru yang terpisah dari Liga Champions UEFA yang sudah mapan.

Setelah ditentang oleh komunitas sepak bola dan pendukung serta berbagai pemerintahan, proposal itu gagal total di mana enam klub Inggris ditambah Inter Milan, AC Milan dan Atletico Madrid mengundurkan diri.

Dua klub Spanyol, Real Madrid dan Barcelona, serta tim Italia Juventus bergeming untuk melanjutkan gagasan itu. Proses itu pun berlanjut di pengadilan Madrid sehingga menghindarkan UEFA menghukum klub-klub yang memisahkan diri itu.

Pada Mei, pengadilan meminta Pengadilan Eropa untuk memutuskan apakah FIFA dan UEFA melanggar undang-undang persaingan Uni Eropa karena menghalangi klub-klub itu menciptakan liga baru.

Resolusi yang disahkan oleh parlemen Eropa, dengan 597 suara mendukung melawan 36 suara menentang dan 55 abstain, menyerukan "model kompetisi Eropa" dengan "komitmen kuat mengintegrasikan prinsip-prinsip solidaritas, keberlanjutan, inklusivitas untuk semua, kompetisi terbuka, prestasi olahraga dan keadilan. "

Resolusi tidak mengikat yang akan diteruskan ke Dewan Eropa dan Komisi Eropa bersama dengan berbagai pemerintahan itu menyebutkan parlemen "sangat menentang kompetisi memisahkan diri yang merusak prinsip-prinsip tersebut dan membahayakan stabilitas seluruh ekosistem olahraga."

Anggota parlemen Uni Eropa dari Polandia, Tomasz Frankowski, yang juga mantan pemain tim nasional, meminta Komisi UE menunjuk koordinator terpisah untuk olahraga dan mengatakan prioritasnya adalah " mempromosikan model olahraga Eropa dan melindunginya dari ancaman seperti Liga Super."

Tetapi Anas Laghrari dan John Hahn dari perusahaan A22 Sports Management S.L yang dibeking Real Madrid menyebut rencana Liga Super Eropa itu tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang didukung oleh parlemen.

Mereka menyerukan fokus kepada undang-undang persaingan Uni Eropa dan menganggap UEFA sudah menetapkan dirinya sebagai operator monopoli.

"Kami percaya ada satu masalah utama yang belum dimasukkan dan itu adalah kebutuhan bagi semua badan olahraga guna mematuhi nilai-nilai inti dan kerangka hukum Uni Eropa," kata mereka.

Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengatakan pihaknya akan bekerja sama dengan UE untuk "melindungi" sepak bola Eropa.

"Pesan Parlemen Eropa atas nama warga Uni Eropa sudah jelas: Eropa dan Eropa secara fundamental menentang proyek-proyek pemisahan diri seperti Liga Super Eropa yang mengancam nilai-nilai olahraga Eropa," kata dia.

"Sepak bola Eropa bukan pasar yang dimaksudkan hanya untuk melayani kepentingan elite dan keuntungan finansial, sepak bola Eropa adalah kisah sukses Eropa dalam melayani semua masyarakat. Kami akan terus bekerja dengan UE untuk memperkuat dan melindungi model olahraga Eropa dalam sepak bola Eropa,” katanya.

Sikap UEFA ini muncul karena beberapa hari kemarin sempat bocor adanya dokumen yang menyebut Liga Super Eropa ini bakal berubah wujud namun memiliki niat sama untuk menjadi penyeimbang dari kompetisi Liga Champions.

Laporan Marca menulis kalau Liga Champions saat ini sudah terasa kaku dan membosankan. Di sinilah kemudian para pendiri Liga Super Eropa terus mencari jalan alternatif untuk kembali meluncurkan  kompetisi dalam wujud berbeda agar tidak lagi dimatikan secara dini oleh UEFA.

“Dalam dokumen dinyatakan bahwa mereka yang berada di belakang Liga Super Eropa tak berencana untuk melepaskan diri dari struktur sepak bola yang ada. Sebaliknya, mereka justru bermaksud melanjutkan ekosistem saat ini,” tulis Marca.

sumber : antara, marca
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA