Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Memahami Banjir Sintang

Selasa 23 Nov 2021 14:59 WIB

Red: Agus Yulianto

Sejumlah anak bermain di jalanan yang terendam banjir di tepian Sungai Kapuas, Sintang, Kalimantan Barat, Senin (22/11/2021). Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyatakan banjir di Kabupaten Sintang terjadi karena curah hujan tinggi serta daerah tangkapan air di hulu Sungai Kapuas dan Sungai Melawi sudah banyak berkurang, sehingga sungai meluap terutama pada titik pertemuan sungai yang padat penduduk.

Sejumlah anak bermain di jalanan yang terendam banjir di tepian Sungai Kapuas, Sintang, Kalimantan Barat, Senin (22/11/2021). Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyatakan banjir di Kabupaten Sintang terjadi karena curah hujan tinggi serta daerah tangkapan air di hulu Sungai Kapuas dan Sungai Melawi sudah banyak berkurang, sehingga sungai meluap terutama pada titik pertemuan sungai yang padat penduduk.

Foto: ANTARA/Jessica Helena Wuysang
Sintang secara geografis merupakan titik temu dari tiga sub DAS. 

REPUBLIKA.CO.ID, Suasana Kota Sintang, ibu kota Kabupaten Sintang pada Ahad (21/11), perlahan mulai menunjukkan geliatnya kembali. Ini setelah ibu koata itu, hampir satu bulan sebagian besar wilayahnya terendam banjir.

Jalur utama dalam kota seperti Jalan Lintas Melawi yang sempat terendam cukup tinggi, kini sudah dapat dilewati meski di lokasi yang berada bantaran sungai. Ketinggian air masih sepinggang orang dewasa.

Banjir yang disebut-sebut paling besar dalam kurun waktu 50 tahun terakhir itu, menyisakan sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam jangka pendek dan panjang. Termasuk penyebab utama dan upaya pencegahan agar tidak terulang.

Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (Ditjen PDASHL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Helmi Basalamah menyatakan, banjir yang terjadi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas di Kalimantan Barat, terutama di daerah cekungan dari sungai yang berkelok. Areal terdampak memang berada pada sempadan sungai yang merupakan rawa belakang atau back swamp.

Curah hujan lebat terjadi sejak akhir Oktober sampai awal November 2021 yang secara kumulatif sebesar 294 milimeter (mm) menghasilkan debit banjir sebesar 15.877,12 meter kubik (m3) per detik, melebihi kapasitas tampung sungai sebesar 12.279,80 m3 per detik sehingga terjadi luapan dengan debit 3.597,32 m3 per detik.

Bagian hulu Daerah Tangkapan Air (DTA) lokasi banjir didominasi oleh lereng curam sampai dengan sangat curam. Lokasi-lokasi banjir merupakan meander serta cekungan yang berada di hilir DAS dan merupakan dataran rendah dengan sistem lahan berupa dataran banjir atau flood plain.

Titik temu

Direktur Yayasan Natural Kapital Indonesia (YNKI) Haryono mengatakan, Kabupaten Sintang secara geografis merupakan titik temu dari tiga sub DAS yang ada di pehuluan Kalbar. Mulai dari DAS Kapuas, Melawi dan Ketungau.

Ketiga sub DAS tersebut mempunyai cakupan areal yang sangat luas. Sub DAS Kapuas terbentang dari kawasan Kabupaten Kapuas Hulu, luasnya mencapai 3,162 juta hektare. Sub DAS Melawi, dari Kabupaten Melawi, luasannya 2,262 juta hektare. Sedangkan Sub DAS Ketungau, dari arah utara Kota Sintang, luas arealnya 558 ribu hektare.

"Dengan cakupan areal yang sangat luas, dapat dibayangkan jika ketiga Sub DAS tersebut mengalami perubahan fungsi, maka dampak yang diterima Kabupaten Sintang terutama di Kota Sintang, seperti yang terjadi sebulan terakhir," ujar dia.

 

photo
Warga berada di atas perahu motor di jalan raya Pasar Sungai Durian, Sintang, Kalimantan Barat, Senin (22/11/2021). Banjir besar yang melanda Pasar Sungai Durian selama sebulan tersebut sudah semakin surut dan aktivitas perekonomian di tempat itu mulai ramai seperti semula. - (ANTARA/Jessica Helena Wuysang)
 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA