Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Kerukunan di Kalbar, Dialog dan Pelajaran Kelam Masa Lalu

Selasa 23 Nov 2021 05:35 WIB

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

Sejumlah pengendara motor melintas di dekat Masjid Raya di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Jumat (12/11/2021). Masjid Raya Singkawang yang pertama kali didirikan pada tahun 1885 dan merupakan salah satu masjid tertua di Kalimantan Barat tersebut menjadi salah satu landmark kota di Singkawang.

Sejumlah pengendara motor melintas di dekat Masjid Raya di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Jumat (12/11/2021). Masjid Raya Singkawang yang pertama kali didirikan pada tahun 1885 dan merupakan salah satu masjid tertua di Kalimantan Barat tersebut menjadi salah satu landmark kota di Singkawang.

Foto: ANTARA/Jessica Helena Wuysang
Para tokoh agama di Kalbar terus menjaga komunikasi antarumat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –  Kalimantan Barat (Kalbar) merupakan wilayah yang sangat majemuk karena berbagai etnis dan agama hidup berdampingan di sana. Namun, hampir tidak ditemukan jejak konflik yang disebabkan isu agama. 

Para tokoh-tokoh agama di Kalbar dari mulai tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai provinsi memiliki komunikasi yang baik. Dialog antaragama berjalan dengan baik di semua tingkatan. Sehingga kerukunan antarumat beragama dapat terjaga dengan baik di semua tingkatan. 

Baca Juga

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kalbar, Ustadz Ismail Ruslan, mengatakan hubungan tokoh dari agama-agama yang ada di Kalbar terbangun mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai provinsi. Memang sejak dulu di Kalbar tidak pernah ditemukan jejak konflik berlatar belakang agama. 

Ia menyampaikan, dulu pernah terjadi konflik antaretnik. Namun masyarakat Kalbar dalam satu dasawarsa ini tidak ingin mengulangi masa-masa kelam tersebut. "Di Kalbar selain ada FKUB juga ada organisasi etnis yang tergabung dalam organisasi Perkumpulan Merah Putih, jadi ada dua organisasi yang menjadi tempat tokoh-tokoh bernaung dan berkomunikasi," kata Ustadz Ismail kepada Republika.co.id, Senin (22/11). 

Dia menerangkan, tokoh-tokoh agama berkumpul, berkomunikasi dan berdialog di FKUB. Sementara tokoh-tokoh etnis berkumpul, berkomunikasi, dan berdialog di Perkumpulan Merah Putih. Jadi dua kekuatan ini yang menjaga kerukunan umat beragama di Kalbar.

Di samping itu, dia menceritakan, keterlibatan pemerintah di Kalbar sangat aktif dalam merawat kerukunan. Misalnya setiap pilkada, tokoh-tokoh agama selalu disapa pimpinan daerah bersama pangdam dan kapolda. Mereka bersama-sama turun ke kelompok-kelompok masyarakat dan organisasi-organisasi yang ada di Kalbar. 

"Jadi keterlibatan (semua pihak) ini yang menurut pandangan saya membuat tokoh-tokoh agama merasa diperhatikan  pemerintah karena dihubungi dan disapa, sehingga apapun yang terjadi di Kalbar, pemerintah dan tokoh agama paling awal yang menyelesaikannya," ujarnya. 

Baca juga: Tiga Perangai Buruk dan Tiga Sifat Penangkalnya  

Di Kalbar organisasi etnis sangat banyak, di antaranya ada majelis adat budaya Melayu, dewan adat Dayak, ikatan keluarga besar Madura, kerukunan keluarga Sulawesi Selatan tempat orang-orang Bugis, majelis adat budaya Tionghoa, dan lain-lain. Organisasi tersebut hidup di tengah masyarakat, anggotanya aktif dan kegiatannya ada. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA