Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Muslimah Inggris: Islamofobia Terjadi Setiap Hari

Sabtu 20 Nov 2021 19:29 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Nashih Nashrullah

Komunitas Muslim Inggris paling sering hadapi Islamofobia. Islamofobia (ilustrasi)

Komunitas Muslim Inggris paling sering hadapi Islamofobia. Islamofobia (ilustrasi)

Foto: Bosh Fawstin
Komunitas Muslim Inggris paling sering hadapi Islamofobia

REPUBLIKA.CO.ID, CARDIFF – Muslimah Samia Egeh yang tinggal di Cardiff, Inggris harus menerima perlakuan Islamofobia dalam kehidupan sehari-hari. 

Walaupun Cardiff dikenal sebagai rumah bagi salah satu komunitas Etnis Kulit Hitam, Asia, dan Minoritas (BAME) tertua di Inggris, dia tetap menerima diskriminasi.

Baca Juga

“Islamofobia memang ada dan terjadi setiap hari,” kata Samia. Menurut data terbaru dari UK Home Office, hampir setengah dari semua korban kejahatan kebencian di Inggris dan Wales pada Maret 2021 adalah Muslim.

Hingga 45 persen dari 6.377 kejahatan kebencian agama yang tercatat selama periode tersebut dilakukan terhadap Muslim dibandingkan dengan 22 persen terhadap orang-orang Yahudi, kelompok agama kedua yang paling ditargetkan. 

“Kemanapun saya pergi, orang tidak bisa menyebut nama saya, tidak ada usaha untuk menyebut nama saya. Orang akan bertanya sudah berapa lama saya di sini?” ujar dia.

November telah diperingati sebagai bulan kesadaran Islamofobia. Para juru kampanye di Wales mengatakan ada jalan panjang yang harus ditempuh untuk memperbaiki dampak diskriminasi terhadap Muslim selama beberapa generasi. 

Dewan Muslim Wales, Abdul Azim, mengatakan Muslim adalah kelompok minoritas yang paling menerima perlakuan diskriminasi saat melamar pekerjaan.

“Sesuatu seperti itu memiliki dampak pada generasi. Ini berdampak pada mata pencaharian orang, keluarga, anak-anak, dan itu dapat memiliki efek lanjutan selama bertahun-tahun,” ucap dia.

Azim menjelaskan ada beragam dampak yang dirasakan Muslim. Misal, ketakutan dan kecemasan hingga membuat komunitas masuk dalam lingkaran ketidakberuntungan dan kemiskinan.

Dilansir ITV News, Sabtu (20/11), Anggota BAME Natasha Asghar percaya mendidik anak-anak bisa mengatasi diskriminasi antar generasi. “Untuk mengatasi segala bentuk kebencian, sangat penting bagi pemerintah bekerja sama dengan polisi, badan amal setempat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan sekolah,” kata dia.

Menurut dia, pendidikan memang penting tetapi yang lebih penting adalah anak-anak karena masa depan ada di tangan mereka. “Sangat penting bahwa keragaman, inklusi dan hidup dalam masyarakat yang harmonis diajarkan kepada anak-anak,” tambahnya.

Sumber: itv 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA