Sabtu 20 Nov 2021 13:29 WIB

Anies: Peran Muhammadiyah di Jakarta Panjang Sejarahnya

Muhammadiyah memiliki peran besar dan panjang sejarahnya di Jakarta.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Mas Alamil Huda
Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan. Anies menyampaikan bahwa Muhammadiyah memiliki peran besar dan panjang sejarahnya di Jakarta.
Foto: Dok Pemprov DKI
Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan. Anies menyampaikan bahwa Muhammadiyah memiliki peran besar dan panjang sejarahnya di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menghadiri Peresmian Masjid At-Tanwir dan Gedung Dakwah Muhammadiyah DKI Jakarta pada Sabtu (20/11). Anies menyampaikan bahwa Muhammadiyah memiliki peran besar dan panjang sejarahnya di Jakarta.

Anies mengatakan, Masjid At-Tanwir dan Gedung Dakwah Muhammadiyah berada di lokasi yang sangat bersejarah. Sebab Jalan Keramat ini adalah bagian dari tempat paling tua di Jakarta, dari mulai Cawang sampai Senen itu adalah garis perdagangan Jakarta di masa lalu.

"Dan garis ini dari mulai Senen sampai Salemba selalu di seberang sedikit itu namanya Matraman, di sana tempat pasukan Sultan Agung parkir ketika mau menyerang (Belanda) Batavia di Kota Tua," kata Anies saat pidato pada Peresmian Masjid At-Tanwir dan Gedung Dakwah Muhammadiyah DKI Jakarta, Sabtu (20/11).

Anies mengatakan, menjadi lengkap sejarahnya ketika balai pertemuan di lantai lima Masjid At-Tanwir diberi nama Insinyur Haji Djuanda. Jarak dari Masjid At-Tanwir sampai ke Gedung Sumpah Pemuda sekitar 230 meter.

"Yang menarik, Haji Djuanda adalah tokoh Muhammadiyah, tahun 1928 dinyatakan satu bangsa di jalan ini, tahun 1945 di Jalan Proklamasi dinyatakan satu negara, 13 Desember 1957 Insinyur Djuanda mendeklarasikan satu wilayah kesatuan," ujarnya.

Anies mengatakan, sebelumnya Indonesia hanya tanah, tidak ada airnya. Tapi deklarasi Djuanda menyatakan bahwa air adalah wilayah Indonesia dan ukuran Indonesia langsung dua kali lipat. Awalnya satu juta kilometer persegi menjadi 2,2 juta kilometer persegi karena deklarasi Djuanda.

"Menjadi satu teritori satu wilayah (karena deklarasi Djuanda) dan itu adalah putra Muhammadiyah yang dilanggengkan namanya di seberang tempat sumpah pemuda," jelasnya.

Anies mengatakan, peran Muhammadiyah di Jakarta sangat besar dan sejarahnya panjang. Tahun 1920, KH Ahmad Dahlan datang ke Jakarta dalam perjalanan ke Mekkah. Beliau mampir ke Jakarta untuk bertemu dengan beberapa orang tokoh, mereka bertemu di Tanah Tinggi dekat Masjid At-Tanwir.

Ia mengatakan, peristiwa itu sudah 101 tahun secara substansi, walaupun resminya baru pada tahun 1928 ada Muhammadiyah di Jakarta. Perjalanan panjang ini telah ikut mewarnai perguruan Muhammadiyah hadir begitu banyak di Jakarta, rumah sakit Muhammadiyah banyak berdiri di Jakarta, dan amal usaha persyarikatan ini ikut mewarnai yang dibangun di Jakarta.

"Kami berharap dengan adanya bangunan baru, maka bukan saja gedungnya yang baru, insya Allah idenya, gagasannya, terobosannya makin banyak yang baru," ujarnya.

Anies mengatakan, insya Allah Pemprov DKI Jakarta siap kerja bersama. Karena kolaborasi dengan Muhammadiyah itu selalu tuntas, apa yang direncanakan berhasil dan catatan di pemerintahnya selalu begitu.

"Kalau dengan Muhammadiyah catatannya rapi, tertib, semuanya berjalan sesuai dengan rencana. Itu adalah kesan yang dimiliki oleh pemerintah ketika berbicara tentang kolaborasi, mudah-mudahan itu bisa dipertahankan dengan baik," ujar dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement