Rabu 17 Nov 2021 17:27 WIB

BPCB Jatim Lakukan Ekskavasi Candi Songgoriti

Dari pendapat ahli, candi ini diperkirakan dibangun pada abad 9 hingga 10 Masehi.

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq
 Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur mengadakan ekskavasi di Candi Songgoriti, Kota Batu, Rabu (17/11).
Foto: Wilda Fizriyani.
Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jawa Timur mengadakan ekskavasi di Candi Songgoriti, Kota Batu, Rabu (17/11).

REPUBLIKA.CO.ID, BATU -- Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim) melakukan kegiatan ekskavasi penyelematan candi di Candi Songgoriti, Kota Batu. Kegiatan ini berlangsung dari 10 November sampai 19 November mendatang.

Ketua Tim Ekskavasi Penyelamatan Situs Candi Songgoriti, BPCB Jatim, Muhammad Ichwan mengatakan, kegiatan ekskavasi kali ini bertujuan untuk mengetahui bentuk dan keruangan dari Candi Songgoriti. Dari hasil ekskavasi hingga Rabu (17/11), BPCB setidaknya telah membuka 22 kotak galian.

Pada bagian ini, tim sudah mendapatkan sudut barat laut dan sudut tenggara dari batur Candi Songgoriti. Dari 22 kotak gali tersebut, BPCB juga menemukan batur di sisi utara dan timur. "Kami mencoba mencari di sisi selatan maupun sisi barat. Untuk batur sisi selatan, dua kotak kemarin itu belum kami dapatkan. Saat ini sedang mencari batur sisi barat," jelasnya kepada wartawan di Kota Batu, Rabu (17/11).

Dengan adanya ekskavasi ini, Ichwan berharap bisa menemukan luasan pasti dari Candi Songgoriti. Selain ekskavasi, pihaknya juga harus melakukan pendataan dan survei permukaan. Langkah-langkah ini dinilai perlu dilakukan apabila hendak mengetahui luasan candi.

Sebagai informasi, Candi Songgoriti pernah berfungsi sebagai tempat pemujaan dan ritual di masa lampau. Hal ini terutama untuk para pemeluk agama Hindu di zaman tersebut. Berdasarkan pendapat para ahli, candi ini diperkirakan dibangun pada abad 9 hingga 10 Masehi di masa pemerintahan Mpu Sendok.

Di samping itu, Ichwan juga mengungkapkan, Candi Songgoriti sempat dipugar oleh Belanda pada 1921 sampai 1936. Hal ini diketahui melalui temuan lingkaran timah di candi induk. "Nah, itu sebagai penanda dalam pemugaran sebagai susun ulang. Itu penempatan ulang," ungkapnya.

Pada bagian bawah batur Candi Songgoriti juga terdapat perkuatan yang dilakukan oleh Belanda dengan menggunakan bata. Ukuran bata tersebut antara lain panjang 25 centimeter (cm), lebar 13 cm dan tebal lima cm.

Pondasi batur pada bagian atas memiliki susunan sekitar sembilan lapis. Kemudian di bagian bawah dari pondasi bata ada pelat beton setebal 40 cm. "Jadi itu perkuatan yang diberikan Belanda dalam pemugaran tahun 1921 sampai 1936," jelasnya.

Ichwan juga mengungkapkan pihaknya menemukan instalasi drainase yang diperkirakan dibangun di masa Belanda. Setidaknya ada dua macam instalasi drainase yang ditemukan di sebelah barat laut candi. Instalasi ini tersusun dari bata ukuran yang sama dan sudah memiliki campuran semen dan lepa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement