Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Alquran Abad ke-15 Pukau Pengunjung Perpustakaan Ziya Bey 

Rabu 17 Nov 2021 07:02 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah

Mushaf Alquran abad ke-15 ini ditulis Meliki El Esberi pada 1473

Mushaf Alquran abad ke-15 ini ditulis Meliki El Esberi pada 1473

Foto: iqna.ir
Alquran abad ke-15 ini ditulis Meliki El Esberi pada 1473

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA – Manuskrip Alquran abad ke-15 di Perpustakaan Manuskrip Ziya Bey di Sivas, Turki memesona semua orang yang melihatnya. 

Alquran yang disumbangkan warga untuk Perpustakaan Manuskrip Ziya Bey di Sivas itu ditulis seniman kaligrafi Islam yaitu Meliki El Esberi pada 1473. 

Baca Juga

Huruf-hurufnya ditulis dengan menggunakan gaya kaligrafi Muhaqqaq bukan tulisan Naskh yang biasa digunakan. Akan terapi hanya peneliti saja yang bisa melihat langsung Alquran aslinya.  Sementara warga bisa mengakses salinan digutalnya setelah memenuhi prosedur yang ditentukan.  

Direktur Perpustakaan Naskah Sivas Ziya Bey, Dahiye Karagulle, mengatakan warga yang ingin melihat Alquran bisa mengakses salinan digitalnya.  

"Salah satu karya paling terkenal dari perpustakaan kami adalah manuskrip Alquran 1473, yang berasal dari abad ke-15. Ini benar-benar ditulis dengan indah, yang akan mengesankan siapa pun yang melihatnya. Keunikan Alquran ini adalah judul-judulnya ditulis dalam bahasa kufi," kata Dahiye seperti dilansir iqna. Ir pada Rabu (17/11). 

"Di halaman pertama, kita melihat bahwa Alquran yang biasanya ditulis dalam gaya Naskh kaligrafi ditulis dengan aksara muhaqqaq di sini. Sementara ada informasi tentang jumlah ayat, kata dan huruf di awal surat, ejaan resmi Utsmani dan Ali Mukaar telah digunakan bersama. Kami melihat informasi tentang bacaan ada di samping," katanya.

Dia menambahkan bahwa Alquran tulisan Meliki El Esberi itu terdiri dari 329 halaman. "Tidak mungkin bagi kami untuk memajang Alquran yang merupakan karya berharga seperti kebanyakan orang. karya kami yang lain, kepada semua orang ketika mereka datang dan mengunjungi museum kami. Peneliti kami dapat melihatnya, dan ketika warga lain ingin melihatnya, kami memberi mereka salinan digital selama mereka mengikuti prosedur yang diperlukan. Karya kami sudah tua, mereka jangan terlalu banyak ditangani karena bisa rusak. Makanya kantor pimpinan lembaga kita jaga semaksimal mungkin," katanya.

 

Sumber: iqna.ir

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA