Kemenkes Klaim RI Lebih Cepat Capai Target Vaksinasi WHO

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Agus raharjo

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (Dirjen P2P) Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi.
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (Dirjen P2P) Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi. | Foto: DOk BNPB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Juru Bicara Vaksinasi Covid-19, Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan saat ini Republik Indonesia (RI) sudah mencapai lebih cepat dari target WHO dimana 40 persen masyarakat mendapatkan vaksinasi dosis kedua secara lengkap. Selain telah mencapai target WHO, lanjut Nadia, Indonesia masuk dalam daftar lima besar negara dengan cakupan vaksinasi tertinggi di dunia.

"Target WHO adalah Indonesia harus bisa melakukan vaksinasi sebanyak 40 persen pada akhir 2021. Per 14 Maret Indonesia tidak menyentuh angka 40 persen dengan memvaksinasi 84 juta sasaran vaksinasi kita," kata Nadia dalam diskusi daring, Selasa (16/11).

Baca Juga

Posisi Indonesia berada di bawah India, Amerika Serikat, Brazil, dan Jepang. Menurutnya, ini adalah apresiasi kedua yang harus dibanggakan Indonesia.

Nadia juga mengingatkan masyarakat agar tidak perlu ragu dengan vaksin yang ada. Sebab, pemerintah menjamin vaksin yang diberikan kepada masyarakat aman, bermutu, dan berkhasiat.

Dijelaskan vaksin membuat tubuh relatif lebih tahan serangan virus, bisa menghindarkan dari gejala, perawatan di rumah sakit dan mengurangi risiko kematian. Namun, hal itu tak berarti masyarakat dapat mengabaikan protokol kesehatan karena potensi penularan virus tetap terbuka.

Sementara epidemiolog dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, Dicky Budiman terus mewanti-wanti agar tidak jumawa dengan pencapaian saat ini. Terlebih, saat ini sudah ada penurunan level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sejumlah wilayah di Indonesia, menurutnya kondisi saaat ini masih berbahaya.

Sebab, potensi kemunculan gelombang ketiga Covid-19 masih terus menghantui. Terlebih di Indonesia masih banyak kasus-kasus terinfeksi yang belum terdeteksi.

"Untuk diketahui level transmisi di Indonesia, semua daerah di Indonesia enggak ada yang lebih dari level community transmision yang ditetapkan oleh WHO, yang artinya level community transmision itu terburuk. Artinya masih banyak kasus infeksi yang belum terdeteksi, sehingga kalaupun angka absolutnya bagus ya belum lulus," kata Dicky kepada RepJabar.

Dicky tidak menyalahkan perihal level PPKM yang sudah diturunkan. Namun, menurutnya penurunan bisa dilakukan bila sudah melebihi level community transmision.

"Kecuali kalau sudah lebih dari level community transmision, tidak ada kasus dalam beberapa hari. Jadi kondisi sekarang belum aman banget, berbahaya. Kalau ada hanya satu kasus pun itu fenomena gunung es," tegas Dicky.

Dicky menambahkan, saat ini Indonesia juga telah memberikan pencapaian yang baik dalam hal vaksinasi. Namun, masih banyak pula masyarakat yang belum divaksin, seperti anak-anak serta kelompok rawan.

"Jadi ini bisa saja meledak dari kelompok-kelompok tersebut," ucap Dicky.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Terkait


Menkes Perkirakan 300 Juta Vaksinasi Covid Hingga Akhir 2021

Kemenkes: Cakupan Vaksinasi Lengkap Melebihi Target WHO

Kemenkes: PeduliLindungi Kini Terintegrasi dengan Traveloka

Wamenkes: Satu dari Delapan Orang Jakarta Derita Diabetes

Jika Lengah di Akhir Tahun, Indonesia Hadapi Gelombang III

Republika Digital Ecosystem

Kontak Info

Republika Perwakilan Jabar. Jalan Mangga 47, Bandung 40114, Indonesia.

Phone: +6222 87243363, +6222 87243364 , +6222 87243365

jabar@republika.co.id

Ikuti

× Image