Sabtu 20 Nov 2021 19:10 WIB

BKKBN: Stunting Dapat Terjadi Sebelum Hamil

Pemerintah ingin masa depan anak Indonesia terjamin jauh dari stunting.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Budi Raharjo
Kepala BKKBN Dr (HC) dr Hasto Wardoyo Sp OG (K)
Foto: BKKBN
Kepala BKKBN Dr (HC) dr Hasto Wardoyo Sp OG (K)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Indonesia berupaya maksimal mengatasi stunting yang merupakan masalah kesehatan. Pemerintah ingin masa depan anak Indonesia terjamin jauh dari stunting.

Berdasarkan Perpres 72 tahun 2021, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang dan tinggi badannya berada di bawah standar yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintah di bidang kesehatan.

Dari data Global Nutrition Report, jumlah anak stunting secara global pada 2019 sebanyak 21,9 persen atau 149 juta. Dari jumlah itu, sebanyak 34,4 persennya ada di Benua Asia, termasuk di Indonesia, Singapura, Malaysia.

Atas temuan itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus meningkatkan pemahaman masyarakat akan bahaya stunting. Tujuannya guna mencegah potensi stunting sedari seorang perempuan belum hamil.

"Stunting terjadi dimulai dari pra-konsepsi atau sebelum kelahiran si bayi," kata Kepala BKKBN Dr (HC) dr Hasto Wardoyo Sp OG (K) dalam paparannya, Selasa (16/11).

BKKBN menekankan pentingnya menjaga kesehatan perempuan sebelum periode kehamilan agar mencegah bayi stunting. Sebab data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa 36,3 persen remaja putri usia 15-19 tahun kondisinya beresiko kurang energi kronik. 

Lalu 33,5 persen wanita usia subur 15-49 tahun mengalami hamil dengan resiko kurang energi kronik. Sebanyak 37,1 persen wanita usia subur 15-49 tahun juga menderita anemia.

"Bayi dapat lahir dalam kondisi stunting bila seorang remaja calon ibu mengalami kurang gizi dan anemia. Kemudian saat hamil, seorang ibu tidak mendapatkan asupan gizi yang mencukupi dan ibu hidup di lingkungan dengan sanitasi kurang memadai," ujar  dokter Hasto Wardoyo.

BKKBN menyampaikan salah satu intervensi yang dilakukan dalam percepatan penurunan stunting adalah memastikan setiap calon pengantin berada dalam kondisi ideal untuk menikah dah hamil. Sebab berdasarkan hasil kajian dan penelitian menunjukkan kondisi ibu saat hamil dan melahirkan menjadi faktor determinan pada kejadian stunting.

"Usia ibu saat hamil dan melahirkan, anemia, indeks masa tubuh rendah, serta perilaku merokok dan keterpaparan terhadap asap rokok dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin yang mengakibatkan bayi lahir stunting," imbau dokter Hasto Wardoyo. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement