Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Ekonom Nilai Surplus Neraca Dagang Oktober Cukup Sehat

Senin 15 Nov 2021 18:14 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Pekerja membongkar muat peti kemas di IPC Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (26/10). Neraca perdagangan Oktober yang membukukan surplus 5,73 miliar dolar AS dinilai ekonom dihasilkan dari kinerja ekspor dan impor nasional yang cukup sehat.

Pekerja membongkar muat peti kemas di IPC Terminal Peti Kemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (26/10). Neraca perdagangan Oktober yang membukukan surplus 5,73 miliar dolar AS dinilai ekonom dihasilkan dari kinerja ekspor dan impor nasional yang cukup sehat.

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Surplus dagang bulan lalu lebih dominan didorong oleh peningkatan ekspor.

REPUBLIKA.CO.ID, Dedy Darmawan Nasution

JAKARTA -- Neraca perdagangan Oktober yang membukukan surplus 5,73 miliar dolar AS dinilai ekonom dihasilkan dari kinerja ekspor dan impor nasional yang cukup sehat. Para ekonom menilai, tren surplus perdagangan masih akan berlanjut seiring kenaikan harga komoditas dunia.

Baca Juga

Direktur Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Tauhid Ahmad, mengatakan, surplus dagang bulan lalu lebih dominan didorong oleh peningkatan ekspor yang tembus 22,03 miliar dolar AS. Sementara, nilai impor yang sebesar 16,29 miliar dolar AS cenderung stagnan dari bulan-bulan sebelumnya.

"Ini cukup sehat, karena memang dorongan situasi global yang penuh ketidakpastian sehingga banyak negara yang ingin memastikan kebutuhan industrinya terpenuhi disaat mulai tumbuh," kata Tauhid kepada Republika.co.id, Senin (15/11).

Tauhid menyoroti ekspor hasil tambang yang naik tajam. Menurut dia selain karena kenaikan harga yang tinggi, juga didorong oleh permintaan tajam 190,57 persen dibanding Oktober 2020 (yoy).

Selain itu, ekspor industri pengolahan yang naik 36,5 persen yoy juga menjadi pendorong kenaikan ekspor saat ini. "Ini salah satunya didominasi oleh CPO. Kita tahu permintaan CPO saat ini lagi luar biasa meningkat," kata dia.

Tauhid mengatakan, kenaikan-kenaikan permintaan itu terjadi seiring tren pemulihan ekonomi dunia saat ini. Di satu sisi, ketidakpastian dunia akan ketersediaan bahan baku produksi dan krisis energi juga menghantui sektor industri sehingga banyak negara berlomba-lomba mengamankan bahan baku.

"Kita akan menghadapi tahun pemulihan di seluruh dunia begitu industri mulai aktif kembali," kata dia.

Sementara itu, Direktur Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Mohamad Faisal, memperkirakan surplus dagang masih akan terjadi setidaknya hingga akhir tahun. Salah satu penyebabnya karena dorongan harga yang naik besar pasca Covid-19 mulai melandai. 

Kondisi itu membuat nilai ekspor Indonesia akan terus mengalami peningkatan dan lebih tinggi dari impor. "Dari sisi suplai ada distruspi yang menyebabkan komoditas agak sedikit, sementara permintaan meningkat sejalan banyak negara  mulai pulih terutama China," katanya.

Namun di sisi lain, Faisal menilai impor ke depan kemungkinan akan terus meningkat. Hal itu mengikuti kegiatan ekonomi dalam negeri yang terus melonggar sehingga memacu geliat industri dalam negeri untuk terus berproduksi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis nercaca perdagangan Indonesia selama Oktober 2021 kembali mencatat surplus bahkan tertinggi sepanjang sejarah. Neraca perdagangan barang periode Oktober tembus 5,73 miliar dolar AS. Nilai tersebut naik dari surplus September 4,37 miliar dolar AS sekaligus melampaui rekor tertinggi sebelumnya pada Agustus 2021 yang mencapai 4,75 miliar dolar AS.

"Surplus dagang ini merupakan yang tertinggi dari periode-periode sebelumnya," kata Kepala BPS, Margo Yuwono dalam konferensi pers virtual, Senin (15/11).

Margo mengatakan, capaian surplus dagang Indonesia kali ini merupakan yang ke-18 secara berturut-turut. Adapun komoditas utama yang menyumbang surplus dagang di antaranya bahan bakar mineral, lemak dan minak hewan nabati, serta besi dan baja.

Adapun negara mitra dagang Indonesia penyumbang surplus terbesar yakni perdagangan Amerika Serikat (AS) yang mencetak surplus 1,72 miliar dolar AS. Diikuti China surplus 1,3 miliar dolar AS, serta Filipina yang surplus 685,7 juta dolar AS.

Lebih detail, Margo menyampaikan, angka ekspor selama bulan Oktober lalu mencapai 22,03 miliar dolar AS. Ekspor tersebut naik 6,89 persen dibanding September 2021 (mtm) juga melonjak 53,35 persen dari Oktober 2020 (yoy).

Lebih lanjut, nilai impor tercatat, 16,29 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat 0,36 persen mtm dan meningkat tajam 51,06 yoy.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA