Sunday, 27 Zulqaidah 1443 / 26 June 2022

Arab Saudi Dituduh Menjegal Dialog Iklim

Jumat 12 Nov 2021 15:37 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

Fasilitas minyak Aramco di Jubeil, 600 kilometer dari Riyadh, Arab Saudi. Foto diambil 3 Mei 2009. Arab Saudi yang kaya minyak bumi diduga menyabotase dialog untuk mengatasi perubahan iklim.

Fasilitas minyak Aramco di Jubeil, 600 kilometer dari Riyadh, Arab Saudi. Foto diambil 3 Mei 2009. Arab Saudi yang kaya minyak bumi diduga menyabotase dialog untuk mengatasi perubahan iklim.

Foto: AP Photo/Hassan Ammar
Arab Saudi yang kaya minyak bumi diduga menyabotase dialog mengatasi perubahan iklim

REPUBLIKA.CO.ID, GLASGOW -- Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman al Saud membantah tuduhan negara produsen minyak terbesar di dunia itu menyabotase negosiasi upaya mengatasi perubahan iklim. Ia mengatakan tuduhan tersebut palsu.

"Apa yang kalain dengan itu tuduhan palsu dan kecurangan dan kebohongan," kata Pangeran Abdulaziz dalam Konferensi Iklim PBB atau COP26 di Glasgow, Skotlandia, Kamis (12/11) kemarin.

Baca Juga

Ia merespons jurnalis yang memintanya mengomentari klaim bahwa negosiator Arab Saudi berusaha menghalangi langkah yang dapat mengancam permintaan minyak. "Kami telah bekerja dengan baik," kata Pangeran Abdulaziz bersama kepala COP26 dan pejabat tinggi lainnya.

Negosiator dari 200 negara lebih akan mencari konsensus langkah selanjutnya dalam upaya memotong emisi bahan bakar fosil dunia dan usaha lain dalam mengatasi perubahan iklim. Partisipasi Arab Saudi dalam diskusi mengenai perubahan iklim terlihat janggal.

Kerajaan yang menjadi kaya dan berkuasa karena minyak itu terlibat dalam negosiasi yang isu utamanya mengurangi konsumsi minyak dan bahan bakar fosil lainnya. Arab Saudi sudah berjanji untuk memotong emisi. Pemimpin-pemimpinnya sudah menegaskan akan terus menjual dan memompa minyak sepanjang masih ada permintaan.

Tim Arab Saudi di Glasgow mengajukan berbagai proposal mulai dari keluar dari negosiasi pada pukul 18.00 waktu setempat. Padahal negosiasi biasanya berakhir dini hari.

Para negosiator iklim veteran menuduh hal itu sebagai usaha rumit mengadu domba faksi-faksi negara. Tujuannya adalah menghalangi kesepakatan yang dapat mengancam produksi batu bara, gas, dan minyak.

Pakar think-tank iklim dari Eropa E3g, Jennifer Tollman, mengatakan Arab Saudi seakan berkata 'mari tidak perlu bekerja hingga larut malam dan terima upaya ini tidak akan menjadi ambisi' ketika pembahasan memotong polusi bahan bakar fosil yang merusak iklim. "(Dan apabila) negara lain setuju dengan Arab Saudi, mereka bisa menyalahkan Arab Saudi," kata Tollman.

Mantan presiden Irlandia dan kepala kelompok politisi senior dalam perubahan iklim Mary Robinson mengatakan Rusia dan Arab Saudi 'mendorong keras' untuk menghalangi setiap kesepakatan akhir dalam upaya memotong produksi batu bara atau mengurangi subsidi pemerintah pada bahan bakar fosil.

Sudah lama Arab Saudi dianggap pembocor pembicaraan perubahan iklim. Sejauh ini Saudi adalah satu-satunya negara yang dipilih negosiator untuk berbicara secara privat, dan pengamat, berbicara di depan publik.

Rusia dan Australia masuk kategori yang sama dengan Arab Saudi dalam pembicaraan itu. Masa depan dua negara itu juga bergantung pada batu bara, gas alam dan minyak. Mereka bekerja dalam kesepakatan iklim Glasgow agar hal itu tidak terancam.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA