Wednesday, 24 Syawwal 1443 / 25 May 2022

Dikdasmen Muhammadiyah Luncurkan RPJP dan Pangkalan Data

Rabu 10 Nov 2021 15:23 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Yusuf Assidiq

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir membubuhkan tanda tangan usai meluncurkan Rencana Jangka Panjang Pendidikan (RPJP) Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah di Gedung PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Rabu (10/11). RPJP Dikdasmen ini disusun untuk Tahun 2021 hingga Tahun 2045. RPJP ini berfungsi sebagai panduan arah pendidikan di Muhammadiyah.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir membubuhkan tanda tangan usai meluncurkan Rencana Jangka Panjang Pendidikan (RPJP) Pendidikan Dasar dan Menengah Muhammadiyah di Gedung PP Muhammadiyah, Yogyakarta, Rabu (10/11). RPJP Dikdasmen ini disusun untuk Tahun 2021 hingga Tahun 2045. RPJP ini berfungsi sebagai panduan arah pendidikan di Muhammadiyah.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Data yang dikumpulkan dapat digunakan sebagai basis penentu kebijakan.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) PP Muhammadiyah meluncurkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), pangkalan data, dan batik nasional. Kegiatan dilaksanakan bersama penyerahan hadiah lomba video ismuba multimedia.

Ketua Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah, Dr Sungkowo Mudjiamano mengatakan, RPJP disusun dengan gigih (alm) Prof Baedhowi, Ketua Dikdasmen saat itu. RPJP merupakan refleksi masa lalu, gambaran kondisi sekarang, dan rencana masa depan.

RPJP Dikdasmen bersifat makro secara nasional yang harus diterjemahkan di level wilayah dan daerah. Dalam rangka pembinaan ke sekolah-sekolah Muhammadiyah, sehingga peserta didik jadi manusia beriman, bertakwa, berahlak mulia, dan berkemajuan.

RPJP akan menunjukkan peta situasi mutakhir dan posisi pendidikan Muhammadiyah secara tepat dan akurat. Memperjelas rencana-rencana pendidikan Muhammadiyah pada masa depan, jadi petunjuk arah ke mana pendidikan Muhammadiyah melangkah.

Peluncuran bertepatan Hari Pahlawan 10 November. Sedangkan, pangkalan data jadi sistem yang menghimpun data dan informasi pendidikan jenjang PAUD dan Dikdasmen dari seluruh pemangku satuan pendidikan Muhammadiyah yang terintegrasi terpusat.

Data yang dikumpulkan dapat digunakan sebagai basis penentu kebijakan. Hal itu bermanfaat dalam pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) mulai jenjang PAUD, Dikdas, dan Dikmen terus mengalami peningkatan dan menghadapi tantangan era digital.

"RPJP untuk mengevaluasi atau mengontrol pendidikan Muhammadiyah agar tidak ke luar dari rencana yang termaktub dalam RPJP," kata Sungkowo dalam peluncuran RPJP Dikdasmen di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (10/11).

Muhammadiyah, sejak berdiri pada 1912, telah memainkan peranan terpenting mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan, pada 1911, Kiai Ahmad Dahlan sudah mendirikan sekolah modern Madrasah Ibtidaiyyah Diniyyah Islamiyah (MIDI).

Kiai Dahlan telah merintis pembaruan pendidikan sebagai kesatuan kelembagaan berbasis kesatuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Sekolah modern holistik itu memadukan ilmu, amal, ilmiah, mengintegrasi ilmu pengetahuan, dan ilmu agama.

Kiprah Muhammadiyah menegaskan diri sebagai pionir sekolah modern berkemajuan. Ditopang manajemen pengelolaan profesional menghadirkan usaha keras mewujudkan pendidikan berlandaskan iman, taqwa, agama, karakter, Pancasila, dan kebudayaan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir mengatakan, pengorbanan, kerja keras, dan kiprah nyata Muhammadiyah sangat besar mencerdaskan dan memajukan bangsa. Dilakukan di Tanah Air sampai daerah terdepan, terjauh, dan tertinggal.

Sehingga, betul-betul berskala nasional. Muhammadiyah menjadi kekuatan strategis bagi masa depan Indonesia, dan saat bangsa harus memfokuskan diri ke pembangunan SDM guna memasuki era revolusi industri 4.0 yang penuh tantangan dan kompetisi.

Jadi, keberadaan dan peran Muhammadiyah dengan lembaga pendidikan yang besar dan berkualitas niscaya dan menentukan. Kehadiran Muhammadiyah bukan karena massa, tapi kualitas dan modal strategis untuk kemajuan bangsa di tengah persaingan.

"Tanpa kehadiran Muhammadiyah bangsa Indonesia pincang sebagai kekuatan nasional yang unggul dan strategis. Di antara peran strategis Muhammadiyah ialah dalam bidang pendidikan sejak sebelum hingga setelah Indonesia merdeka," ujar Haedar.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA