Friday, 26 Syawwal 1443 / 27 May 2022

Kekeringan Ancam Pasokan Air dan Makanan di Kenya

Senin 08 Nov 2021 11:10 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi kekeringan.

Ilustrasi kekeringan.

Foto: ANTARA FOTO/Abriawan Abhe
Orang-orang Kenya berjalan lebih jauh untuk mencari makanan dan air.

REPUBLIKA.CO.ID, NAIROBI -- Bangkai ternak adalah pengingat bahwa kekeringan telah turun lagi di Kenya utara. Peristiwa ini merupakan rangkaian terbaru dalam guncangan iklim yang melanda Tanduk Afrika. Para penggembala menyaksikan hewan kesayangan menderita kekurangan air dan makanan.

Salah satu yang menghadapi bencana tersebut adalah Yusuf Abdullahi. Dia mengaku telah kehilangan 40 ekor kambing. "Jika mereka mati, kita semua mati," katanya.

Baca Juga

Pemerintah Kenya telah mengumumkan bencana nasional di 10 dari 47 kabupatennya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan lebih dari 2 juta orang sangat rawan pangan.

Orang-orang Kenya berjalan lebih jauh untuk mencari makanan dan air. Para pengamat memperingatkan bahwa ketegangan di antara masyarakat dapat meningkat.

Ketua Konservasi Margasatwa Subuli, Mohamed Sharmarke, menyatakan satwa liar juga mulai mati. "Panas di tanah memberi tahu Anda tanda kelaparan yang kita hadapi," katanya.

Para ahli memperingatkan bahwa guncangan iklim seperti itu akan menjadi lebih umum di seluruh Afrika. Afrika adalah wilayah yang berkontribusi paling sedikit terhadap pemanasan global, tetapi akan paling menderita karenanya. Benua ini hanya bertanggung jawab atas 4 persen emisi global.

"Kami tidak memiliki planet cadangan tempat kami akan mencari perlindungan setelah kami berhasil menghancurkan planet ini," kata direktur eksekutif Otoritas Pembangunan Antarpemerintah Afrika Timur, Workneh Gebeyehu, bulan lalu saat membuka pusat peringatan dini iklim regional di Ibukota Kenya, Nairobi.

Presiden Kenya Uhuru Kenyatta setuju dengan kondisi yang harus dialami Afrika. "Afrika, sementara saat ini bertanggung jawab atas jumlah total emisi gas rumah kaca global yang dapat diabaikan, berada di bawah ancaman signifikan dari perubahan iklim," katanya pada pembukaan pusat tersebut.

 
photo
Perubahan iklim ancam 100 juta warga Afrika. - (republika)

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA