Monday, 22 Syawwal 1443 / 23 May 2022

Pemecatan Pelatih Villa dan Kebrutalan Liga Primer Inggris

Ahad 07 Nov 2021 22:34 WIB

Rep: Muhammad Ikhwanuddin/ Red: Gilang Akbar Prambadi

 Dean Smith, dipecat Aston Villa pada Ahad (7/11).

Dean Smith, dipecat Aston Villa pada Ahad (7/11).

Foto: EPA-EFE/FACUNDO ARRIZABALAGA
Sudah tiga pelatih dipecat.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Aston Villa mengumumkan pemecatan Dean Smith dari jabatan pelatih kepala, hanya dua hari setelah tim itu kalah 0-1 dari Southampton. Hasil itu jadi kekalahan kelima beruntun yang diderita Villa, yang musim ini baru menang tiga kali dari sebelas pertandingan di Liga Inggris.

Smith jadi pelatih ketiga di Liga Primer Inggris yang jadi korban kebrutalan Liga Primer Inggris. Dalam kurun waktu sepekan terakhir ini, Smith menyusul setelah Nuno Espirito Santo di Tottenham Hotspur dan Daniel Farke di Norwich City.

Pemecatan Smith menyudahi masa tugasnya yang dimulai sejak Oktober 2018. Ia sukses membawa Villa meraih tiket promosi ke Liga Primer Inggris pada musim pertamanya, sebelum tampil di final Piala Liga Inggris 2019/20. Artinya, Smith adalah orang berjasa bagi the Villa. Tapi, kerasnya Liga Primer Inggris tak menghadirkan ampun baginya.

"Setelah awal yang bagus musim lalu, tahun ini kami tidak melihat perkembangan kontinyu dari segi hasil, performa maupun posisi klasemen," kata CEO Villa Christian Purslow, Ahad (7/11).

"Atas alasan ini kami memutuskan perubahan sekarang agar pelatih kepala yang baru punya waktu untuk memberikan dampaknya," ujarnya menambahkan.

Villa saat ini berada di urutan ke-15 klasemen hanya memiliki sepuluh poin dari sebelas pertandingan yang dimainkan.Hasil itu sedikit banyak dipengaruhi perginya nyawa permainan Villa, Jack Grealish, yang dibeli jadi pemain termahal Liga Premier oleh Manchester City.

Villa berusaha mengkompensasi kepergian Grealish dengan mendatangkan Emiliano Buendia, Leon Bailey dan Danny Ings, tapi langkah itu relatif belum membuahkan hasil di atas lapangan.

 

Brutal

Sevelumnya, Norwich City pada Ahad (7/11) dini hari WIB mengumumkan pemecatan pelatih kepala Daniel Farke, setelah awal musim yang buruk di Liga Inggris. Pengumuman itu muncul hanya selang beberapa jam setelah Farke akhirnya mengantarkan Norwich memetik kemenangan perdana di Liga Inggris musim ini.

Pada Sabtu malam, Norwich mampu memetik tiga poin penuh pertama mereka setelah menundukkan Brentford 2-1 dalam lawatan ke London. Bersamaan dengan pemecatan Farke, tiga staf pelatih bawaannya yakni Eddie Riemer, Chris Domogalla dan Christopher John juga meninggalkan klub bersama juru taktik asal Jerman tersebut.

"Demi tuntutan yang terbaik bagi klub, ini bukanlah keputusan mudah," kata Direktur Olahraga Norwich Stuart Webber dalam laman resmi klub.

"Saya tahu betapa besar determinasi Daniel dan jajarannya untuk bisa sukses di level ini, tapi kami merasa ini saatnya untuk perubahan demi membuka kesempatan terbaik bertahan di Liga Premier," ujarnya menambahkan.

Pemecatan ini tiba setelah Farke mendampingi Norwich dalam 208 pertandingan di semua kompetisi selama empat setengah tahun terakhir. Farke dua kali membawa Norwich menjuarai divisi Championship dan promosi ke Liga Premier, tetapi The Canaries mengawali musim ini dengan sepuluh laga tanpa kemenangan.

Selepas mengalahkan Brentford, Farke sempat menegaskan bahwa Norwich ingin melanjutkan tren positif kemenangan perdana ini selepas jeda internasional nanti.

"Akhirnya kami ada di sini. Kami harus menunggu lama untuk kemenangan pertama ini," katanya.

"Ini baru satu pertandingan dan tiga poin, tidak kurang tidak lebih. Kami menerimanya dan ingin melanjutkan tren ini," ujar Farke menambahkan.

Norwich sempat meninggalkan dasar klasemen berkat kemenangan atas Brentford, tetapi kembali lagi ke posisi juru kunci lantaran Newcastle United meraih satu poin di laga lebih larut. Norwich saat ini memiliki lima poin dan selanjutnya akan menjamu Southampton di Carrow Road pada 20 November selepas jeda internasional.

Namun, apa yang dialami oleh Nuno Santo lebih menyayat. Itu karena ia didepak saat baru empat bulan bekerja. Padahal, posisi Spurs tak terlalu buruk dengan ada di papan tengah saat ditinggalkan Nuno ketika liga baru berjalan dua bulan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA