Saturday, 22 Rabiul Akhir 1443 / 27 November 2021

Saturday, 22 Rabiul Akhir 1443 / 27 November 2021

Sempat Kembali Ateis, Mualaf Adam Takjub Pembuktian Alquran

Ahad 07 Nov 2021 05:59 WIB

Rep: Ratna Ajeng Tejomukti/ Red: Nashih Nashrullah

Mualaf Adam berdiskusi tentang keberadaan Allah SWT. Mualaf Adam

Mualaf Adam berdiskusi tentang keberadaan Allah SWT. Mualaf Adam

Foto: Dok Istimewa
Mualaf Adam berdiskusi tentang keberadaan Allah SWT

REPUBLIKA.CO.ID, Adam Ahmad Daud Abdurrahman memiliki pengalaman yang cukup panjang sebelum mantap memeluk Islam. Lelaki yang lahir dengan nama Davidson Nainggolan itu telah mengenal agama tauhid sejak dirinya berusia anak-anak. Bahkan, saat berumur 10 tahun, pria asal Jakarta itu sudah berniat menjadi Muslim. 

Menurutnya, intensinya saat itu muncul setelah melihat teman-temannya yang Muslim rajin beribadah. Setiap azan Maghrib berkuman dang, misalnya, mereka langsung meninggalkan permainan dan bergegas ke masjid. 

Baca Juga

Adam mengenang, momen itu sangat menyentuh hatinya. “Saya lahir dan tumbuh besar di lingkungan yang kebanyakan Muslim. Hampir semua teman saya itu Muslim,” ujar dia kepada Republika beberapa waktu lalu. 

Karena tertarik dengan kebiasaan kawan-kawannya itu, ia pun menirunya. Sesekali, kenang Adam, dirinya bahkan ikut shalat berjamaah atau mendengarkan pengajian di masjid. Beberapa temannya kemudian mengajaknya untuk berislam. 

Baca juga: Kian Dalami Islam, Mualaf Thenny Makin Yakin Kebenarannya

Untuk menjadi Muslim, ternyata syaratnya cukup mudah. Seseorang hanya perlu mengucap kan dua kalimat syahadat dan mengerti artinya. Maka Adam kecil pun melafalkan pernyataan ikrar tersebut. Waktu itu, yang menjadi saksinya adalah seorang saudara jauh. 

Meskipun begitu cepat, Adam saat itu sudah menyadari konsekuensinya menjadi seorang Muslim. Ia paham bahwa kalau sudah berislam, dirinya wajib melaksanakan ibadah-ibadah, semisal sholat atau puasa Ramadhan. Dengan sekuat daya, ia melakukannya. 

Baca juga: Rasulullah SAW Terbiasa Menahan Lapar Sejak Usia Muda

Akan tetapi, Adam masih menyimpan rasa waswas. Ia takut kedua orang tuanya mengetahui kabar keislamannya. Karena itu, setiap akhir pekan dirinya masih mengikuti ritual agama ayah dan ibunya. Adapun sepanjang Senin hingga Sabtu, bocah lelaki ini berusaha tidak meninggalkan sholat lima waktu atau mengaji bersama teman-temannya. 

Sebagai seorang mualaf cilik, Adam saat itu tentunya memerlukan bimbingan lebih lanjut. Ia ingat, waktu itu ada seorang guru agama di mas jid dekat rumahnya. Namanya, Ustaz Suripto. Beberapa kali, Adam kecil bersama beberapa kawannya sempat mengikuti kajian yang digelar sang ustadz. Namun, dai itu kemudian pindah ke luar kota. 

Setelah itu, Adam sempat merasa kehilangan arah.... 

sumber : Harian Republika
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA