Jumat 05 Nov 2021 12:13 WIB

Pemimpin Taliban Peringatkan Kemungkinan Adanya Penyusup

Pemimpin tertinggi Taliban ingatkan kemungkinan penyusup yang merusak citra kelompok

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih
Anggota delegasi politik dari gerakan Taliban Afghanistan menghadiri pembicaraan yang melibatkan perwakilan Afghanistan di Moskow, Rusia, 20 Oktober 2021. Pemimpin tertinggi Taliban ingatkan kemungkinan penyusup yang merusak citra kelompoknya.
Foto: EPA-EFE/ALEXANDER ZEMLIANICHENKO
Anggota delegasi politik dari gerakan Taliban Afghanistan menghadiri pembicaraan yang melibatkan perwakilan Afghanistan di Moskow, Rusia, 20 Oktober 2021. Pemimpin tertinggi Taliban ingatkan kemungkinan penyusup yang merusak citra kelompoknya.

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Pemimpin tertinggi Taliban, Haibatullah Akhunzada, telah memperingatkan mungkin ada entitas tidak dikenal atau penyusup untuk mengacaukan kepemimpinan Taliban di Afghanistan. Peringatan tersebut disampaikan secara luas di media sosial Taliban pada Kamis (4/11).

Kepemimpinan Taliban telah berulang kali memperingatkan ada penipu dan penjahat bergabung dengan kelompoknya sebagai upaya untuk merusak citra mereka. Pada September, penjabat Menteri Pertahanan Mullah Mohammad Yaqoob menyuarakan keprihatinan tersebut dalam sebuah pesan audio.

Baca Juga

“Ada beberapa orang jahat dan korup yang ingin bergabung dengan kami untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri atau untuk mencemarkan nama baik kami dan membuat kami terlihat buruk,” kata Yaqoob dilansir Aljazirah, Jumat (5/11).

Yaqoob yang merupakan putra pendiri Taliban Mullah Mohammad Omar mengatakan Taliban akan menangani setiap penyusup. Taliban mengumumkan amnesti nasional dan berjanji untuk mengizinkan perusahaan media swasta tetap beroperasi secara bebas dan independen. Namun, ada beberapa laporan tentang beberapa pejuang Taliban yang diduga melakukan pelecehan terhadap jurnalis, bahkan menyita properti secara paksa di beberapa provinsi.

Menyusul laporan tersebut, pada akhir September kantor Akhunzada mengeluarkan dekret yang melarang anggota Taliban memasuki rumah dan kantor di Kabul atau sekitarnya dengan dalih memeriksa kendaraan atau peralatan. Menurut pernyataan kantor Akhunzada, pemimpin Taliban tidak mengizinkan para anggotanya untuk mengambil kendaraan atau peralatan atas nama pemerintah Afghanistan.

Namun, ada laporan lanjutan tentang pejuang Taliban yang memaksa ratusan keluarga keluar dari rumah mereka di provinsi tengah Daikondi. Dalam beberapa bulan terakhir, Taliban telah memperluas perekrutannya karena berusaha memenuhi janji untuk menjaga keamanan di Afghanistan. Akan tetapi Taliban telah menghadapi serangkaian serangan mematikan dari kelompok ISIS di Provinsi Khorasan atau dikenal sebagai ISIS-K.

Pada Selasa (2/11), terjadi serangan di rumah sakit militer Kabul yang menewaskan setidaknya 19 orang. Kelompok ISIS-K mengklaim serangan tersebut.

Kantor berita resmi Bakhtar yang mengutip saksi mata melaporkan, sejumlah pejuang ISIS memasuki rumah sakit dan terlibat bentrok dengan pasukan keamanan. Seorang petugas kesehatan yang berhasil melarikan diri dari lokasi mengatakan dia mendengar ledakan besar diikuti oleh tembakan beberapa menit kemudian.  

Baca juga : Letjen Eko Margiyono, Saingan Kuat Letjen Dudung Jadi KSAD

Menurut petugas kesehatan tersebut, sekitar sepuluh menit kemudian terjadi ledakan kedua yang lebih besar. Ledakan itu menambah daftar serangan dan pembunuhan sejak Taliban mengambil alih Afghanistan pada Agustus lalu.

Sejak Taliban kembali berkuasa, ISIS telah melakukan serangkaian serangan termasuk serangan terhadap masjid dan target lainnya. Pada 2017, ISIS pernah melancarkan serangan di rumah sakit Afghanistan yang memiliki kapasitas 400 tempat tidur dan menewaskan lebih dari 30 orang.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement