Friday, 2 Zulhijjah 1443 / 01 July 2022

Aktivitas Industri China Alami Kontraksi

Selasa 02 Nov 2021 11:21 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Pekerja merakit suku cadang truk di sebuah pabrik di Hangzhou, China, 27 Oktober 2021.

Pekerja merakit suku cadang truk di sebuah pabrik di Hangzhou, China, 27 Oktober 2021.

Foto: Chinatopix Via AP
PMI Manufaktur China mengalami penurunan dari 49,6 pada September jadi 49,2.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Aktivitas pabrik China berkontraksi lebih dari yang diperkirakan pada Oktober lalu. Kondisi itu merupakan bulan kedua pelemahan aktivitas industri.

Seperti dilansir Reuters, Selasa (2/11), situasi tersebut dirugikan oleh harga bahan baku yang terus tinggi dan permintaan domestik yang lebih lemah. Hal itu menunjukkan situasi akhir tahun ekonomi China yang diprediksi mengalami kondisi kurang baik.

Baca Juga

Data Biro Statistik Nasional China menunjukkan, Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur China berada di level 49,2 poin pada Oktober 2021 turun dari posisi September yang sebesar 49,6 poin. Indeks yang berada di bawah 50 itu menunjukkan adanya kontraksi yang berlanjut.

Sektor manufaktur China yang luas terus melambat tahun ini mulai September yang menjadi pertumbuhan paling lemah sejak Maret 2020. Itu karena pembatasan lingkungan, penjatahan listrik, dan harga bahan baku yang lebih tinggi.

Sejalan dengan PMI yang lebih lemah, sub indeks untuk produksi turun ke 48,4 poin di Oktober dari 49,5 poin  di September. Sub indek untuk pesanan baru juga berkontraksi untuk bulan ketiga, berada di 48,8 poin.

"Sekitar sepertiga dari perusahaan yang disurvei mencatat permintaan yang tidak mencukupi sebagai kesulitan terbesar mereka, menunjukkan permintaan yang tidak memadai telah membatasi produksi mereka," kata Zhang Liqun, seorang analis di China Logistics Information Center.

Lebih mengkhawatirkan, subindeks untuk harga hasil produksi naik menjadi 61,1 poin, tertinggi sejak 2016 ketika biro statistik mulai menerbitkan indikator tersebut. INni menunjukkan meningkatnya tekanan inflasi sementara pertumbuhan ekonomi yang perlambatannya meluas.

"Indeks produksi telah turun ke level terendah sejak diterbitkan pada 2005, tidak termasuk periode krisis keuangan global pada 2008-2009 dan wabah Covid-19 pada Februari 2020," kata Zhiwei Zhang, kepala ekonom di Pinpoint Asset Management.

"Indeks harga output naik ke level tertinggi sejak diterbitkan pada 2016. Sinyal ini mengkonfirmasi bahwa ekonomi China kemungkinan sudah mengalami stagflasi," katanya menambahkan.

Analis yang disurvei oleh Reuters memperkirakan para pejabat Bank China menahan diri dari upaya untuk merangsang ekonomi dengan mengurangi jumlah uang tunai yang harus dimiliki bank cadangan hingga kuartal pertama 2022.

"Produksi tetap lemah, menunjukkan masalah permintaan mungkin relatif besar, dan beberapa pelonggaran kebijakan masih diperlukan," kata Zhou Hao, Ekonom Senior di Commerzbank.

PMI nonmanufaktur resmi pada bulan Oktober sedikit berkurang menjadi 52,4 poin dari 53,2 poin pada bulan September, ketika layanan berayun kembali ke ekspansi pada akhir musim panas yang penuh dengan Covid-19.

Klaster baru Covid-19 kembali pada bulan Oktober, terutama di utara, yang lagi-lagi dapat mengganggu aktivitas ekonomi dan memberikan pukulan lain ke sektor jasa karena pembatasan ketat untuk menahan penyakit.

"Karena dampak epidemi dan cuaca, konsumen lebih cenderung menghabiskan liburan mereka di rumah atau bepergian untuk jarak pendek," kata Zhao Qinghe, ahli statistik senior NBS, dalam sebuah pernyataan yang menyertainya.

Sementara itu, Zhao menambahkan, sektor transportasi termasuk layanan udara dan kereta api berkembang, pertumbuhannya relatif lemah.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA