Friday, 12 Rajab 1444 / 03 February 2023

Zaha Jadi Korban Rasis di Medsos

Ahad 31 Oct 2021 20:29 WIB

Rep: Rahmat Fajar/ Red: Muhammad Akbar

Crystal Palace Wilfried Zaha menyesuaikan masker wajahnya saat dia melakukan pemanasan menjelang pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Tottenham Hotspur dan Crystal Palace di Stadion Tottenham Hotspur di London, Minggu, 7 Maret 2021.

Crystal Palace Wilfried Zaha menyesuaikan masker wajahnya saat dia melakukan pemanasan menjelang pertandingan sepak bola Liga Premier Inggris antara Tottenham Hotspur dan Crystal Palace di Stadion Tottenham Hotspur di London, Minggu, 7 Maret 2021.

Foto: AP/John Walton/POOL PA
Zaha memposting pesan di instagram pribadinya terkait tindakan rasis

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Penyerang Crystal Palace Wilfried Zaha menjadi korban rasis di media sosial setelah kemenangan tandang 2-0 atas Manchester City dalam pertandingan Liga Inggris kemarin. Zaha mencetal gol pembuka di laga tersebut ketika laga berjalan enam menit.

Setelah pertandingan Zaha memposting pesan di instagram pribadinya terkait tindakan rasis yang diterimanya. Dan ia mendesak perusahaan media sosial mengambil tindakan.

"Pesan ini bukan untuk saya mendapatkan sejuta pesan yang mengatakan 'kami mendukung Anda' dan 'menjijikkan' atau tentang saya mendapatkan simpati," tulis Zaha di Instagram dilansir dari Standard, Ahad (31/10).

Ia mengatakan postingannya buka sebatas omong kosong. Ia juga tak keberatan dilecehkan karena ia datang ke pertandingan untuk melakukan pekerjaannya.

“Saya tidak keberatan dilecehkan karena saat ini datang dengan melakukan pekerjaan yang saya lakukan meskipun itu bukan alasan tetapi warna saya akan selalu menjadi masalah nyata tetapi tidak apa-apa karena saya akan selalu HITAM DAN BANGGA," ia menambahkam.

"Bicaralah padaku ketika kamu benar-benar menganggap serius masalah ini," katanya.

Beberapa pemain menjadi sasaran rasisme di media sosial beberapa bulan terakhir, terutama di Liga Inggris. Dan pesepakbola Inggris mendesak perusahaan media sosial berbuat lebih banyak untuk mengatasi masalah tersebut.

Awal tahun ini Zaha mengatakan berhenti berlutut sebelum pertandingan yang menggambarkan kampanye anti-rasisme di sepakbola Inggris. Pasalnya, Zaha menggap arti dari gerakan tersebut telah hilang.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA